Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Senin 15 Juli 2024, Hari Peringatan Santo Bonaventura

sembilan kali menjadi pemimpin tertinggi. Dan sebagai pujangga gereja ia banyak menulis karya-karya yang sangat mendalam isinya.

Editor: Rosalina Woso
FOTO PRIBADI
RENUNGAN - RP. Markus Tulu SVD menyampaikan Renungan Harian Katolik Senin 15 Juli 2024, Hari Peringatan Santo Bonaventura 

Oleh: RP Markus Tulu SVD

POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik Senin 15 Juli 2024, Hari Peringatan Santo Bonaventura

Yes. 1:11-17

Injil: Matius 10:34-11: 1.

Pada Hari Peringatan Santo Bonaventura, Uskup dan Pujangga Gereja; Kita diajak untuk mengenal kepribadiannya dan mendalami spiritualitasnya. Bonaventura semasa kecil mengalami jatuh sakit yang berat.

Ibunya menggendongnya dan pergi menemui santo Fransiskus Asisi dan anak itu diberkatinya. Ketika memasuki usia dewasa Bonaventura masuk Ordo saudara-saudara Dina Fransiskan.

Ia kemudian dikirim ke Paris untuk belajar Filsafat dan Teologi. Baginya belajar berarti berdoa sehingga terus-menerus merenung. Saat orang bertanya dari mana ia memperoleh kepandaiannya, ia menunjuk ke salib Yesus: Dari Dia!" Setelah ditahbiskan menjadi imam, ia selalu mengucurkan air matanya setiap kali ia naik ke atas altar.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 14 Juli 2024, "Lalu Pergilah Mereka"

Karena begitu mendalamnya penghormatan terhadap peristiwa salib Yesus. Sebagai pengajar ia segera menjadi tenar sebagai mahaguru teologi di seluruh Universitas di Paris. Dan ketika diangkat menjadi pemimpin tertinggi Ordo Fransiskan oleh kebijaksanaannya ia diangkat sampai sembilan kali menjadi pemimpin tertinggi. Dan sebagai pujangga gereja ia banyak menulis karya-karya yang sangat mendalam isinya.

Beberapa ungkapan yang menjadi pedoman hidupnya: Ketakutan akan Allah merintangi seseorang untuk menyukai hal-hal yang fana, yang mengandung benih-benih dosa, Kesombongan biasanya menggilakan manusia, karena ia diajar untuk meremehkan apa yang sangat berharga seperti rahmat dan keselamatan, dan menjunjung tinggi apa yang seharusnya dicela seperti kesia-siaan dan keserakahan."

Di sini akhirnya kita sadar bahwa yang terpenting dalam hidup ini bukan kurban dan persembahan. Ibadah kita yang sejati adalah belaskasihan, bersikap adil dan hidup jujur. Karena itu hendaknya kita terus belajar berbuat baik dan berhenti berbuat jahat. Itulah yang mulia dalam hidup kita.

Sebagai pengikut Kristus hendaknya kita beri total hidup kita. Kita hendaknya menjadi kian militan dan radikal untuk menyangkal diri, setia memanggul salib dan menyerahkan nyawa demi Kerajaan Allah. Karena yang lebih mulia adalah keselamatan dan hidup kekal dan bukan nama besar, tenar dan kekayaan yang menutup aliran berkat.(*)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS


 
 

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved