Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Senin 15 Juli 2024, Damai atau Pedang?
Yesus tidak mengajarkan jalan kekerasan, perpecahan, atau pertengkaran dalam rumah tangga dan masyarakat
Oleh: Pastor Jhon Lewar
POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik Senin 15 Juli 2024, Damai atau Pedang?
Biara Soverdi St. Yosef Freinademetz STM Nenuk Atambua Timor
Lectio:
Yesaya 1:11-17
Mazmur 50: 9.16bc-17.21.23
Injil: Matius 10:34 -11:1
Meditatio:
Banyak kalangan termasuk komunitas orang Katolik bingung dengan pernyataan Yesus berikut ini: “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang”(Matius 10: 34). Pedang merupakan salah satu perlengkapan yang digunakan ketika berperang atau bertempur. Dengan kwalitas ketajamannya, pedang bisa membunuh, memisahkan, menghancurkan dan membinasakan.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 14 Juli 2024, "Anda dan Saya Dipanggil dan Diutus Tuhan"
Pedang adalah simbol kekerasan, peperangan, pemisahan, dan penolakan. Apakah Yesus mengajarkan jalan kekerasan dan perpecahan? Bukankah Yesus dikenal dengan ajaran-Nya tentang hukum yang paling utama, yakni hukum kasih? Sebelum Yesus mengungkapkan perkataan tersebut di atas, bukankah Dia mengutus para murid dan memerintahkan mereka untuk mengucapkan salam damai kepada setiap penghuni rumah yang mereka singgahi (lihat Matius 10:12; Lukas 10:5)?
Perlu diketahui bersama, bahwa konteks bacaan Injil hari ini adalah panggilan menjadi murid Yesus dan konsekuensinya (lih. Mat. 10:1 –11:1). Ayat 1-4 bicara tentang panggilan kedua belas rasul. Ayat 5-15 berbicara tentang pengutusan kedua belas rasul, tentang apa saja yang harus mereka perbuat dan mereka wartakan.
Sementara itu, Matius 10: 16 – 11:1 (bacaan kita masuk dalam bagian ini) berbicara tentang konsekuensi dari panggilan menjadi murid Yesus. Oleh karena itu, perkataan Yesus yang mengatakan bahwa Dia datang “bukan membawa damai melainkan pedang” harus dipahami dalam konteks konsekuensi yang akan dihadapi oleh murid-murid-Nya.
Yesus tidak mengajarkan jalan kekerasan, perpecahan, atau pertengkaran dalam rumah tangga dan masyarakat. Namun, mau tidak mau, hal tersebut akan dihadapi oleh para murid sebagai akibat dari panggilan untuk menjadi murid-Nya.
Yesus mengatakan: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” Yesus hendak menegaskan bahwa mengikuti-Nya adalah pilihan radikal, dalam arti menuntut totalitas dan tak bisa setengah-setengah. Jalan mengikuti Yesus itu adalah jalan salib.
Ini hanya bisa dilakoni bila orang telah memilih dan memeluk Yesus sebagai nilai tertinggi dalam hidupnya sehingga hal-hal lain sifatnya sekunder saja. Kata “salib” di sini dipahami sebagai penderitaan yang ditanggung oleh seseorang karena menjadi pengikut Yesus. Salib yang paling berat adalah ketika orang itu ditolak atau dijauhi oleh anggota keluarga sendiri.
Seorang murid Yesus harus sanggup menanggung salib tersebut. Jika demikian, maka seorang pengikut Kristus bahkan tak takut “kehilangan nyawanya karena Aku”, sebab “ia akan memperolehnya” (ay. 39). la sanggup menanggung segala risiko dari pilihannya mengikuti Kristus. Hal ini tak mungkin dilakukan oleh orang yang imannya masih setengah-setengah.
Merenungkan bacaan Injil hari ini, kita bisa memetik beberapa hal penting.
Pertama, Yesus datang ke dunia ini bukan membawa pedang di tangan yang dapat menoreh daging, namun Dia datang ke dunia ini, dengan kasih yang dapat menoreh hati manusia, sehingga manusia dapat bertobat dan memperoleh keselamatan.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.