Liputan Khusus
Lipsus - Penumpang Membeludak Antre Tiket di Pelabuhan Tenau Kupang
Seperti pada Kamis 4 Juli 2024 malam, terjadi penumpukan penumpang Kapal perintis rute dari Pelabuhan Tenau Kupang ke Sabu dan beberapa pulau lainnya.
Dia hanya menyarankan agar kapal-kapal seperti perintis bisa memaksimalkan pelayanan. Sebab, kapal ini salah satunya untuk memperlancar distribusi barang dari provinsi kepulauan ini.
Menurut dia, calon penumpang juga perlu memperhatikan waktu operasional kapal sehingga bisa menyesuaikan dengan tiket yang dibeli. Dia yakin, kalau semua komponen bekerja sama, layanan bisa lebih baik.
"Kita sarankan, penjualan tiket, terutama untuk agen juga jangan dibatasi sehingga penumpang langsung beli ke agen, tanpa harus ke pelabuhan. Di pelabuhan itu hanya datang, check in langsung ke kapal. Kalau bisa loket atau petugas check in juga perlu banyak, sehingga tidak ada penumpukan," ujarnya.
Musim libur
Kepala Kantor PELNI Cabang Kupang, Harianto Sembiring merespons keluhan penumpang yang terjadi pada Kamis malam. Dia mengaku, penumpukan itu karena bersamaan dengan musim liburan.
"Jadi pas saat itu, banyak transportasi lain, banyak yang nggak jalan. Jadi salah satunya yang terdekat untuk masyarakat pulang ke daerah, hanya kapal (Tol Laut) itu," kata dia, Jumat (5/7).
Dia mengatakan ada dua kapal perintis yang beroperasi di NTT dan dikelola Pelni. Dua kapal itu berkapasitas 500 penumpang. Terhadap kejadian viral Kamis malam, ia mengaku sebetulnya kapal itu sudah sesuai kapasitas.
Bahkan, karena masih banyak penumpang yang hendak berangkat, pihaknya berkoordinasi dengan regulator atau pemberi izin berlayar agar kapal perintis itu mendapat tambahan penumpang. Kebijakan itu terpaksa dilakukan karena penumpang yang sudah berada di pelabuhan.
"Adanya antrian penumpang kemarin, kita koordinasi sama regulator. Awalnya kapal sudah full, jadi diizinkan untuk tambah sekitar 100 lagi," ujarnya.
Sekalipun sudah mendapat tambahan jelasnya, ternyata masih banyak juga penumpang yang tidak bisa berlayar
karena kapasitas penumpang sudah berdasarkan izin yang dikeluarkan. Harianto memaklumi adanya luapan emosional dari orang lain atau calon penumpang akibat hal itu.
Dia membandingkan dengan pola yang ada di penerbangan, justru lebih ketat. Malah, kebijakan di transportasi laut lebih fleksibel, namun tetap memperhatikan faktor keselamatan.
Harianto mengatakan, harusnya penjualan tiket kapal perintis dilakukan di atas kapal dan SITOLAUT. Kejadian viral itu, kata dia, terpaksa dilakukan pihaknya menjual tiket di loket karena penumpang yang banyak. Jika penjualan tiket di atas kapal, maka penumpang tidak tersaring penumpang yang memiliki tiket atau tidak.
Konsekuensi dari penjualan tiket di atas kapal dengan penumpang yang banyak, juga berpengaruh ke layanan kapal yang dinilai tidak baik. Bisa jadi, penumpang akan saling berdesak-desakan di atas kapal hingga jumlah penumpang melebihi manifest kapal.
"Hingga kemarin di pelabuhan kita jualannya di terminal. Sebenarnya bukan tempat jual tiket, banyak penumpang yang serbu naik ke atas kapal, kita tidak bisa saring. Sehingga kita saring dari darat," ujarnya.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.