Opini
Opini: Paklaru
Cerpen “Tuhan Jatuh Hati” berkisah tentang seorang pendeta yang menyamar dan berjudi bersama para pelanggan di sebuah paklaru.
Dalam ketiga kunjungan tersebut, Buluputi sudah lebih dahulu ada di dalam paklaru saat Mettekatto masuk.
Dalam dua kunjungan pertama, Mettekatto bergantung pada Buluputi: Buluputi membayar minumannya pada kunjungan pertama, dan pada kunjungan mengendalikannya karena utang yang dimilikinya.
Pada kunjungan terakhir, Mettekatto-lah yang mengendalikan Buluputi. Datang sebagai pendeta, ia mengelabui para pengunjung paklaru, dan memerintah Buluputi untuk menjadi pemimpin pembangunan gereja.
Mettekatto selalu keluar lebih dahulu dari paklaru dalam ketiga kunjungan tersebut. Namun, jika pada dua kunjungan ia keluar sebagai seorang pemabuk, bahkan sebagai orang yang tak bisa mengendalikan diri, pada kunjungan ketiga ia tidak hanya mengendalikan dirinya, tetapi juga mengendalikan semua orang di dalam paklaru.
Dengan alur demikian, Tuhan Jatuh Hati bisa diperhadapkan dengan The Sun Also Rises karya Ernest Hemingway. Matts G. Djos dalam Writing Under the Influence: Alcoholism and the Alcoholic Perception from Hemingway to Berryman, menekankan posisi novel tersebut sebagai potret mencengangkan atas patologi alkoholisme.
Drama dan keputusan-keputusan dalam novel tersebut tidak secara tragis dipengaruhi oleh alkohol, tetapi itulah yang membuat ceritanya realistis dan menarik. Menurut Djos, novel tersebut, seperti alkoholisme sendiri, mengelabui karena tidak menampilkan gambaran penghancuran diri yang menyebabkan adiksi berlebihan (2010:13).
Dalam Tuhan Jatuh Hati, kemabukan yang tidak dieksplisitkan dan penyangkalan terhadap alkohol justru menandai transformasi tokoh utama dalam urutan-urutan kisah yang bertempat di dalam paklaru sebagai kedai minuman beralkohol.
Tokoh yang keluar dari paklaru dalam keadaan mabuk lalu mencuri kayu dan membunuh ayahnya adalah tokoh yang sama yang kembali ke dalam dan keluar dari paklaru dalam keadaan sadar setelah mengendalikan orang-orang mabuk di dalamnya.
Kemabukan dalam Tuhan Jatuh Hati bukanlah kemabukan yang mendekatkan para tokoh dalam novel kepada Tuhan, seperti kemabukan dalam pembacaan St. Sunardi terhadap salah satu puisi Baudelaire dalam buku Vodka dan Birahi Seorang Nabi (2012:13-22).
Kemabukan-kemabukan para tokoh dalam Tuhan Jatuh Hati justru menjauhkan mereka dari Tuhan.
Meskipun tak sekalipun menggunakan kata “Tuhan” sepanjang cerita, judul cerita menjadi masuk akal karena cerita tersebut adalah kisah tentang seorang pemabuk yang pergi, pulang sebagai seorang pendeta, masuk ke dalam paklaru dan mengajak para pemabuk lain untuk membangun gereja.
Kita ingat, anak yang kembali dan disambut dengan meriah dan hangat oleh sang ayah dalam Injil adalah juga anak yang sebelumnya hilang, secara fisik maupun spiritual. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Mario-F-Lawi-penyair.jpg)