Opini

Opini: Paklaru

Cerpen “Tuhan Jatuh Hati” berkisah tentang seorang pendeta yang menyamar dan berjudi bersama para pelanggan di sebuah paklaru.

Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Mario F Lawi. 

Dalam usaha mengejar dan menghentikan Mettekatto, Enos kemudian mati terkena lemparan kapak sang anak.

Bertahun-tahun kemudian, Mettekatto kembali ke Tebudale, ke paklaru yang sama, sebagai pendeta, dan mengelabui para pemabuk dan penjudi di tempat tersebut, dalam bagian yang dimodifikasi Julius dari versi cerpen Horison. Pendeta yang akan membangun gereja baru, dan suara tapak kuda yang lenyap ditelan angin menutup cerita.

Tebudale adalah lokasi fiktif, tetapi orang-orang NTT tahu bahwa prototipe tempat tersebut adalah tempat-tempat di Nusa Tenggara Timur.

Di keterangan sampul belakang buku sendiri penerbit memberikan keterangan: “Buku Tuhan Jatuh Hati ini mengisahkan sekelumit kehidupan sederhana di Timor pada masa yang silam, yang dapat juga terjadi pada
masa kini.”

Paklaru sebagai lokasi tempat kejadian-kejadian penting dalam cerita terjadi memperkuat pernyataan tersebut.

Stereotipe yang beredar di Timor, maupun NTT pada umumnya, bahwa keberanian seseorang baru muncul setelah ia mengonsumsi alkohol, diangkat Julius dalam cerita.

Mettekatto yang ulet tetapi ceroboh, Buluputi yang tampak tulus, tetapi licik dan penuh perhitungan, Keros yang mengalami gangguan mental karena kehilangan seluruh keluarganya saat perang, maupun Enos yang hilang sepanjang cerita dan baru muncul di saat genting adalah potret orang-orang yang dipertemukan oleh paklaru.

Cerita tidak hanya bergerak di dalam paklaru, tetapi juga digerakkan oleh paklaru. Kesepakatan-kesepakatan antara Mettekatto dan Buluputi berawal di paklaru.

Momen pertemuan dan perpisahan dalam cerita terjadi di paklaru. Muslihat dan rencana diatur bahkan dieksekusi dalam paklaru.

Cerita bahkan dibuka dan ditutup di dalam paklaru. Di dalam paklaru, orang-orang memanfaatkan alkohol untuk mencuri kejujuran pihak lain sekaligus mencari kemungkinan merancang muslihat.

Transformasi Mettekatto menjadi lebih dewasa pun bisa kita cermati dengan melihat pendekatannya terhadap paklaru, dan caranya menyiasati kemabukan.

Mettekatto tiga kali masuk ke paklaru. Pada kali pertama, Mettekatto masih menyapa Buluputi sebelum pulang (1971:9). Dengan demikian, Mettekatto berada dalam keadaan yang tidak terlalu mabuk pada waktu itu.

Pada kali kedua, Mettekatto keluar dari paklaru tanpa menegur siapa pun, yang mengindikasikan dua kondisi yang ia alami: ia dalam keadaan terlalu mabuk, atau dalam keadaan tertekan karena harus melunasi utangnya pada Buluputi dengan cara mencuri kayu jati.

Kedua kondisi bisa saja bercampur, dan memperparah dampaknya di akhir bagian kelima, ketika ia melempar kapak yang membunuh ayahnya di kegelapan malam (1971:25-17).

Pada kedatangan terakhirnya ke paklaru, Mettekatto tidak lagi berada dalam keadaan mabuk. Ia berhasil menguasai keadaan dan situasi.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved