Opini

Opini: Paklaru

Cerpen “Tuhan Jatuh Hati” berkisah tentang seorang pendeta yang menyamar dan berjudi bersama para pelanggan di sebuah paklaru.

Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Mario F Lawi. 

Oleh: Mario F Lawi
Komunitas Sastra Dusun Flobamora

POS-KUPANG.COM - Istilah Melayu-Kupang “paklaru” (kedai tuak/laru) dipopulerkan Julius R. Sijaranamual melalui cerita-ceritanya.

Lebih dari sekadar memopulerkan, Julius bahkan menggerakkan cerita-ceritanya dengan dan di dalam paklaru, terutama melalui buku Tuhan Jatuh Hati, yang bagian terakhir ceritanya dimodifikasi dari cerpen berjudul sama yang terbit di Horison pada Januari 1969.

Cerpen “ Tuhan Jatuh Hati” berkisah tentang seorang pendeta yang menyamar dan berjudi bersama para pelanggan di sebuah paklaru.

Pada akhir cerita, para penjudi meletakkan semua uang hasil kemenangan mereka atas si pendeta ketika tahu bahwa orang baru yang berjudi dengan mereka adalah seorang pendeta, dan bahwa uang taruhan judi yang digunakan si pendeta adalah kolekte gereja.

Cerpen tersebut kemudian disunting, dan diletakkan Julius di bagian terakhir buku ceritanya, sebagai bagian dari buku cerita Tuhan Jatuh Hati.

Buku Tuhan Jatuh Hati terbit pada 1971 (Badan Penerbit Kristen, Jakarta), berisi satu cerita sepanjang 28 halaman yang dibagi dalam enam bagian, dengan gambar sampul dikerjakan sastrawan Toha Mohtar.

Tuhan Jatuh Hati (1971) berkisah tentang Mettekatto anak dari seorang mantan pejuang bernama Enos, serta Buluputi sang rentenir, bertempat di sebuah kampung bernama Tebudale.

Orang-orang Tebudale adalah pihak-pihak penyintas perang. Sebagian kerabat mereka dibantai saat perang.

Beberapa pihak yang selamat tetapi kehilangan keluarga mengalami trauma bahkan merawat dendam terhadap pihak-pihak yang mereka anggap bertanggung jawab.

Karena kondisi hidup yang keras, Mettekatto yang tinggal bersama adik perempuan dan ibunya pun meminjam 30 keping perak kepada Buluputi sebagai modal berladang.

Tanaman pertama yang diusahakan Mettekatto dari pinjaman tersebut adalah jagung, tetapi tanaman harapan tersebut gagal tumbuh karena benihnya dicuri orang dari lubang-lubang tugalan.

Pantang menyerah, Mettekatto kemudian mencoba menanam singkong. Usahanya pun gagal, umbi singkongnya digerogoti tikus.

Untuk melunasi utang, Mettekatto terpaksa menuruti kemauan Buluputi untuk mencuri kayu-kayu jati di seberang kali.

Ketika tawaran telah disanggupi Mettekatto, dan ia telah meninggalkan paklaru untuk berangkat mencuri kayu dengan kapak Buluputi, ayahnya muncul di paklaru dan ingin melunasi utang Mettekatto kepada Buluputi.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved