Berita Nusa Tenggara Timur
PLN Harap Pembangunan PLTAL Larantuka di Jembatan Pancasila Palmerah Segera Direalisasi
PT PLN harap pembangunan PLTAL Larantuka di Jembatan Pancasila Palmerah segera direalisasi karena Proyek Strategis Nasional (PSN)
Penulis: Kanis Jehola | Editor: Kanis Jehola
POS-KUPANG.COM – PT Perusahaan Listrik Negara atau PT PLN mengharapkan pembangunan PLTAL (Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut) di Jembatan Pancasila Palmerah Larantuka, Kabupaten Flores Timur segera direalisasikan.
Sebab, PLTAL Larantuka di Jembatan Pancasila Palmerah merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) untuk mendukung program pemerintahan Presiden Jokowi dalam rangka Indonesia memasuki transisi energi dari energi fosil ke energi baru terbarukan.
Dukungan PT PLN ini disampaikan Hartanto Wibowo, selaku Direktur Perencanaan Korporat dan Pengembangan Bisnis PT PLN, dalam rapat dengan Deputy I KSP, Febry Calvin Tetelepta di Ruang Rapat Utama Gedung Bina Graha Kantor Staf Presiden, Jalan Majapahit , Gambir - Jakarta Pusat pada Selasa, 26 Maret 2024 pukul 10.00 WIB.
Dukungan PT PLN ini dijelaskan kembali oleh Kuasa Direktur PT Tidal Bridge Indonesia Larantuka, Dr. Ir. Andre W Koreh, MT kepada wartawan di kantornya, Kamis (28/3/2024) siang.
Hartanto Wibowo, menjelaskan, energi yang dihasilkan oleh arus laut dan gelombang laut adalah energi yang sangat potensial untuk di eksplorasi dalam mendukung program Presiden Jokowi berkaitan dengan transisi energi.
Jika proyek PLTAL Larantuka di Jembatan Pancasila Palmerah ini terealisasi, maka akan menjadi PLTAL pertama di Indonesia, bahkan menjadi PLTAL terbesar di Asia Tenggara.
Sementara teknologi yang menggantungkan turbin di badan jembatan untuk menghasilkan energi listrik merupakan proyek jembatan pertama di dunia dengan doubel fungsi.
Baca juga: Turbin PLTAL di Jembatan Pancasila Palmerah Larantuka tak Merusak Biota Laut
“Jembatan ini juga akan menjadi proyek contoh ( pilot project ) bagi Indonesia yang secara geografis terdiri dari gugusan pulau- pulau, dan selat di Indonesia memiliki potensi arus laut yang kuat di berbagai lokasi,” kata Hartanto Wibowo sebagaimana disampaikan Andre Koreh.
Hartanto Wibowo mengakui, faktor yang menyebabkan terjadinya “bottle neck” atau kemacetan terealisasinya PLTAL Larantuka sejak 2018, adalah bagaimana memadukan investasi jembatan dan energi arus laut.
Karena itu dilakukan de-bottlenecking atau menghilangkan penghambat dengan melakukan kolaborasi empat pihak yakni Pemda NTT sebagai pengguna/penerima manfaat, Kementerian PUPR sebagai penanggung jawab teknik dan owner jembatan, PT. PLN sebagai strategic partner dan off taker dan PT. Tidal Bridge sebagai technologi owner dan financial arranger .
Untuk harga jual listrik yang akan dihasilkan oleh teknologi ini yang semula Rp 1.750 / kWh atau $11 cent / kWh menjadi Rp 1.200 / kWh atau $7 cent/ kWh adalah harga jual yang sangat atraktif dan layak diterima oleh PT PLN.
Secara administrasi, jelas Hartanto Wibowo, PLTAL Larantuka di Jembatan Pancasila Palmerah juga sudah masuk dalam RUPTL 2019- 2028 untuk mendukung program transisi energi Indonesia.
Karena itu, PT PLN mengharapkan agar MoU Empat Pihak dapat segera terealisasi untuk dimulainya pembangunan PLTAL Larantuka.
Dalam rapat tersebut juga disepakati pula untuk membahas draft MoU Empat Pihak akan dilakukan pada tanggal 4 April 2024. Undangan akan dikeluarkan oleh Deputy I KSP.
Baca juga: Pemerintah Pusat Dorong Realisasikan Pembangunan Jembatan Pancasila Palmerah di Larantuka
Sementara pihak pihak yang diundang adalah Kementerian PUPR, Pemda NTT, Pemda Flotim, PT. PLN , PT. Tidal Bridge dan Kementerian ESDM.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.