Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Jumat 29 Maret 2024: Kisah Sengsara Tuhan
Dalam seluruh kisah sengsara penyaliban Yesus ini memberi makna akan kebesaran Allah yang nampak dalam penderitaan dan kematian di atas salib.
Oleh : Bruder Pio Hayon, SVD *)
POS-KUPANG.COM- Renungan Harian Katolik berikut ini ditulis Bruder Pio Hayon SVD mengangkat judul, Kisah Sengsara Tuhan.
Renungan Harian Bruder Pio Hayon SVD Hari Jumat Agung merujuk pada Bacaan I: Yes. 52: 13-53:12, Bacaan II: Ibr. 4: 14-16; 5: 7-9, Injil : Yoh. 18: 1-19: 42
Berikut ini teks lengkap Renungan Harian Katolik yang ditulis, Bruder Pio Hayon SVD hari ini.
Saudari/a yang terkasih dalam Kristus
Salam damai sejahtera untuk kita semua. Kisah sengsara Tuhan yang kita peringati hari ini, adalah sebuah kisah penyaliban Yesus dari rumah Pilatus sampai ke bukit Golgota.
Dalam seluruh kisah sengsara penyaliban Yesus ini memberi makna akan kebesaran Allah yang nampak dalam penderitaan dan kematian di atas salib.
Kepasrahan Yesus sebagai korban seperti anak domba itu adalah tanda Allah sedang meninggikan PuteraNya di atas Salib. Karena pada salib itulah keselamatan manusia telah mendapat penebusannya.
Saudari/a yang terkasih dalam Kristus
Hari ini kita memperingati Jumat Agung. Jumat Agung adalah Hari Jumat sebelum Minggu Paskah, hari peringatan Penyaliban Yesus Kristus dan wafatnya di Golgota. Hari kematian itu sendiri tidak dicatat jelas di Alkitab. Ada yang menduga jatuh pada hari Rabu, tetapi lebih banyak yang menempatkan pada hari Jumat.
Berdasarkan rincian kitab suci mengenai Pengadilan Sanhedrin atas Yesus, dan analisis ilmiah, peristiwa penyaliban Yesus sangat mungkin terjadi pada hari Jum'at, tetapi tanggal terjadinya tidak diketahui dengan pasti, dan akhir-akhir ini diperkirakan terjadi pada tahun 33 Masehi.
Oleh dua kelompok ilmuwan, dan sebelumnya diperkirakan terjadi pada tahun 34 Masehi oleh Isaac Newton via perhitungan selisih-selisih antara kalender Yahudi dan kalender Julian dan besarnya bulan sabit.
Jumat Agung adalah Hari Jumat sebelum Paskah, yang perhitungan tanggalnya berbeda antara Gereja Timur dan Gereja Barat (lihat Computus untuk penjelasan lebih rinci). Paskah jatuh pada hari Minggu pertama sesudah Bulan Purnama Paskah, bulan purnama pada atau sesudah 21 Maret, yang dijadikan tanggal dari vernal equinox.
Perhitungan Barat menggunakan Kalender Gregorian, sedangkan perhitungan Timur menggunakan Kalender Julian. Kisah tentang sengsara dan penderitaan Yesus dalam jalan salibNya sampai ke puncak Golgota telah memberi satu nilai yang berbeda. Entah dalam perhitungan apapun, yang paling penting di sini adalah Allah telah menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia dengan menggunakan jalan salib.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Jumat 29 Maret, Selamat Merayakan Kamis Putih
Kisah penyaliban Yesus sejak Yesus ditangkap di taman Getzemani sampai berujung ditombak di atas salib itu adalah bukti akan kerendahan hati Allah bagi manusia. Salib bagi orang lain adalah tanda kehinaan dan itu hanya dipakai untuk menghukum orang yang sangat melanggar hukum.
Namun bagi Yesus, Salib adalah jalan menuju keselamatan. Karena itulah jalan satu-satunya sesuai yang dikehendaki Bapa dan Yesus sendiri telah bersabda: “Tak ada kasih yang paling besar dari pada kasih seorang yang menyerahkan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya”. Itu lah kasih yang sempurna. Dan Yesus mempraktekan hukum utama yang diberikanNya sendiri yaitu saling mengasihi.
Dalam kisah sengsara itu terlihat jelas kisah tentang perjumpaan Yesus dengan IbuNya dan Veronika dan perempuan-perempuan yang meratapiNya. Ada juga Simon dari Kirene yang membantuNya dan Yohanes murid yang dikasihiNya.
Di antara kepedihan dan beban salibNya itu, masih ada orang yang datang kepadaNya dengan setia mendampingiNya. Dan itu hanya orang-orang kecil dan yang terpinggirkan dan bukan orang-orang hebat. Tapi Yesus tetap menjalaninya sampai titik darah penghabisan di atas kayu salib.
Karena Dia tahu, itulah jalan menuju keselamatan bagi semua orang. Dalam banyak peristiwa hidup, kita juga pasti mengalami jalan salib hidup kita masing-masing. Dan ketika kita mengalami itu, jangan pernah kaget atau bahkan marah bahwa semua orang yang dulu pernah kita bantu atau bahkan semua orang yang dekat dengan kita akan menjahui kita.
Itu sudah pasti. Maka jangan pernah membuang salib itu hanya karena mereka tidak membantu kita tetapi seperti Yesus harus tetap setia memanggul salib itu karena di balik jalan salib itu, ada kebangkitan dan hidup baru.
Saudari/a yang terkasih dalam Kristus
Pesan untuk kita, pertama: Salib bagi kebanyakan orang menjadi aib dan ketakutan. Tetapi bagi kita, salib adalah jalan keselamatan.
Kedua, Kristus taat sampai wafat di Salib karena untuk menyelamatkan kita dari dosa dan maut. Ketiga, maka setiap salib yang kita pikul dalam hidup kita adalah juga tanda keselamatan bagi kita.(*)
*) Bruder Pio Hayon, SVD adalah Dosen STPM Santa Ursula Ende, Konselor dan Koordinator Bruder Subzonal Indo-Leste
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.