Paskah 2024

Misa Minggu Palma, Pastor Paroki St. Kristoforus Ba'a Ajak Umat Bangun Peradaban Kasih dengan Aksi

Yesus tidak datang ke dunia untuk menyerahkan hidupnya sendiri agar setiap orang dapat menikmati hidup itu di dalam kelimpahan.

Penulis: Mario Giovani Teti | Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/MARIO GIOVANI TETI
Suasana perarakan Minggu Palma di Gereja St. Kristoforus Ba'a, Rote Ndao. Minggu, 24 Maret 2024. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Mario Giovani Teti

POS-KUPANG.COM, BA'A - Saat memimpin perayaan ekaristi Minggu Palma di Gereja St. Kristoforus Ba'a, RD Adrianus Bae Meman yang kerap disapa Romo Ardy mengajak umat untuk senantiasa membangun peradaban kasih dengan segala aksi.

Disaksikan POS-KUPANG.COM, Minggu, 24 Maret 2024, misa diawali dengan pemberkatan daun palma di halaman Kantor Satuan Lalulintas Polres Rote Ndao

Kemudian umat masing-masing membawa daun palma dari halaman Satlantas berarak menuju Gereja St. Kristoforus Ba'a dengan melagukan Anak-Anak Ibrani.

Adapun misa Minggu Palma sebagai awal dari Pekan Suci Paskah yang merupakan perayaan menyambut Yesus Kristus saat tiba di Kota Yerusalem.

Baca juga: Paskah 2024, ASDP Tunda Jadwal Keberangkatan Peziarah Semana Santa

Dalam kotbahnya, Romo Ardy menerangkan, pendekatan sejarah memberikan umat wawasan tentang pertanyaan kenapa hal ini terjadi? 

"Suasana Tuhan Yesus masuk Kota Yerusalem bukanlah suasana religius, bukan juga suasana yang dipenuhi kerohanian melainkan suasana politik yang panas. Pendekatan sejarah membuat kita mengerti apa makna perayaan dari Minggu Palma," ungkap Romo Ardy.


Dijelaskannya lebih lanjut, tiga tahun Yesus berkarya di tengah masyarakat, maka tanggapan orang Israel kala itu tentang Yesus berbeda-beda. 

"Dan hal itu merujuk pada kehidupan kita sekarang, siapakah Yesus menurut kamu?" cetus Romo Ardy sembari bertanya.

Masih penjelasan Romo Ardy, Yesus sebenarnya telah menjalankan nubuat para nabi di zaman Perjanjian Lama.

Yang disebutnya, ketika Yesus memasuki Kota Yerusalem, memunculkan dua kubu yang berbeda. 

Ada orang yang membuka pakaiannya dan menaruhnya di punggung keledai supaya Yesus bisa mengendarai keledai. Itu kelompok pertama.

Kelompok yang kedua adalah kelompok yang membuka pakaiannya dan membentangkannya di jalan. Lalu apa makna dari pernyataan dua kelompok ini?

Diterangkan Romo Ardy, kelompok pertama merujuk pada nubuat nabi Zakaria tentang para murid Tuhan Yesus yang tidak malu-malu membuka pakaiannya dan meletakkan di atas punggung keledai supaya Tuhan bisa duduk. Kelompok ini berpedoman pada raja yang membawa damai.

Sementara, kelompok kedua adalah orang-orang yang menginginkan Mesias yang datang sebagai penebar kematian. Mereka membentangkan pakaian mereka di jalan sebagai tanda ketaatan mereka. Taat kepada raja sebagai panglima perang yang menurut orang Israel adalah Mesias yang dinantikan berabad-abad. 

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved