Rabu, 8 April 2026

Liputan Khusus

Lipsus - Kuota Pupuk di NTT Hanya 35 Persen

Lecky menyebut, masalah gagal panen  akan membebani pemerintah untuk menyiapkan skema baru terkait bagaimana merumuskan kebijakan.

Editor: Ryan Nong
POS-KUPANG.COM/RYAN TAPEHEN
Petani sawah di Kabupaten Kupang mengeluhkan kurangnya alokasi pupuk di tahun 2024. 

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT menyebut terjadinya gagal panen di wilayah NTT memicu tingginya harga beras.

"Ini (gagal panen) sudah pasti mempengaruhi harga beras yang mahal juga karena suplay bahan pangan terbatas dan permintaannya tinggi sehingga harga naik," kata  Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, Lecky Frederich Koli, S.TP saat diwawancarai Pos Kupang, Rabu (28/2).

Lecky menyebut, masalah gagal panen  akan membebani pemerintah untuk menyiapkan skema baru terkait bagaimana merumuskan kebijakan untuk menolong masalah gagal panen yang terjadi di NTT.

Baca juga: Lipsus - Harga Beras di NTT Tembus Rp 18 Ribu, Desperidag Gelar Operasi Pasar di 6 Kota

Baca juga: News Analysis Harga Beras di NTT Tembus Rp 18 Ribu, Kepala DJPb NTT: Pengaruhi Inflasi

"Kalau gagal panen maka tidak ada makanan, ekonomi juga menurun karena daya beli masyarakat menurun, harga naik. Kondisi ini sangat tidak kita harapkan," sebutnya.

Saat ini, kata Lecky, NTT sedang mengalami fenomena alam El Nino yaitu terjadi kekeringan yang berkepanjangan. Fenomena alam itu sangat ekstrem yang melanda keseluruhan wilayah di NTT.

"Oleh karena keterbatasan sumber daya air itu, kita menghadapi ancaman hasil panen. Biasanya bulan seperti ini, kita hampir selesai menanam. Tetapi dari data kerangka sampel area atau KSA dari 150 ribu hektare, kita baru menanam 40 persen. Ini akan berpengaruh pada ketersediaan pangan kita di tahun ini dan beberapa waktu ke depan," jelasnya.

Terkait persoalan itu, kata Lecky, Dinas Pertanian Provinsi NTT mengundang semua Dinas Pertanian Kabupaten untuk melakukan rapat koordinasi yang membicarakan langkah yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan produksi petani yang sudah menanam.

Lecky menyebut, adapun langkah yang diambil Pemerintah Provinsi NTT dalam hal penanganan yaitu berkoordinasi dengan BMKG untuk memetakan wilayah mana saja yang hujannya masih memungkinkan, harus sudah beralih ke komoditas lain selain padi.

"Berdasarkan data dari BMKG dalam melihat fenomena alam yang terjadi, kita akan geser dari padi ke jagung dan saat ini kita sudah mempersiapkan sekitar 30 ribu hektare. Untuk wilayah yang tidak dimungkinkan untuk menanam jagung bisa memilih kacang ijo," tuturnya.

Langkah selanjutnya, kata Lecky, Dinas Pertanian Provinsi NTT telah meminta dinas pertanian kabupaten untuk memonitor semua sumur yang dibangun Dinas PUPR untuk dioptimalkan pemanfaatannya, sehingga suplay air bisa memenuhi kebutuhan petani-petani yang akan menanam.

Kemudian, langkah ketiga, semua aset Pemprov yang dikelola oleh Dinas Pertanian yang memiliki sumber airnya diizinkan untuk dimanfaatkan agar bisa diproduksi

Juga meminta seluruh Dinas Pertanian di Kabupaten untuk menginventarisir sumber pangan selain beras di wilayah masing-masing. Tujuan sebagai antisipasi gagal panen yang mengakibatkan naiknya harga beras. Melalui cara itu para petani bisa beralih komoditas, tidak hanya beras tetapi juga jagung, pisang sorgum dan lainnya.

Dari proses inventarisasi itu, kata Lecky, akan menjadi bahan yang dilaporkan kepada bupati untuk mengambil kebijakan lainnya terkait ketersediaan pangan dan penyelamatan dari ancaman kekurangan pangan akibat gagal panen.

Dikatakan Lecky, tantangan lain dari gagal panen yaitu soal pupuk. Pupuk sudah tersedia, namun di beberapa tempat para petani tidak bisa ambil karena masalah aplikasi yang disiapkan Kementerian Pertanian mengalami gangguan.

"Ini sangat berisiko, kita berhadapan dengan kondisi suplay sarana produksi terbatas, gangguan hama penyakit dan kita selalu berupaya untuk melakukan pengendalian secara serentak tetapi sumber daya kita juga terbatas," ujarnya.

Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved