Jumat, 1 Mei 2026

Liputan Khusus

Lipsus - Kuota Pupuk di NTT Hanya 35 Persen

Lecky menyebut, masalah gagal panen  akan membebani pemerintah untuk menyiapkan skema baru terkait bagaimana merumuskan kebijakan.

Tayang:
Editor: Ryan Nong
POS-KUPANG.COM/RYAN TAPEHEN
Petani sawah di Kabupaten Kupang mengeluhkan kurangnya alokasi pupuk di tahun 2024. 

Pemerintah juga mengundang mitra, diantaranya Bulog serta distributor-distributor di wilayah kabupaten/kota setempat.

"Mereka datang, mereka pajang barang-barangnya dan masyarakat datang belanja tunjukkan kupon. Jadi kupon tidak boleh hilang karena itu menggantikan uang. Kalau lebih ya mereka tambah uang. Kita hanya siap Rp100 ribu," jelasnya.

Selain Kota Kupang dan kabupaten TTS, selanjutnya operasi pasar murah bersubsidi ini dilakukan di Flores Timur, Ngada, Sikka, Sumba Barat Daya, Sumba Timur dengan masing-masing kabupaten/kota mendapatkan 1.000 kupon senilai Rp100 ribu.

Untuk setiap kabupaten/kota, pemerintah menyiapkan dana sebesar Rp100 juta sehingga untuk 7 kabupaten/kota ini, pemerintah gelontorkan dana mencapai Rp700 juta.

Dijelaskan, Sumba Timur, Sikka dan Kota Kupang menjadi lokasi diselenggarakan operasi pasar murah ini karena ketiga daerah ini merupakan daerah yang ditetapkan untuk pengukuran inflasi kota di NTT pada tahun 2024.

Sementara TTS dan Ngada menjadi kabupaten tambahan untuk pengukuran inflasi di NTT.

Operasi pasar murah bersubsidi ini juga dilaksanakan sejak lama namun pada 2022 nilai kupon naik Rp100 ribu dari nilai kupon sebelumnya senilai Rp50 ribu. Hal ini terjadi karena harga bahan pokok terus meningkat.

"Kita berharap, apa yang kita buat di tingkat provinsi ini dapat juga ditindaklanjuti di tingkat kabupaten/kota sehingga jangan hanya berharap dari pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten kota juga harus jeli melihat," ungkap Frumen.

Selain itu, pemerintah mengadakan pasar murah dalam rangka memperingati hari besar keagamaan seperti Natal dan Lebaran tetapi tidak bersubsidi. Sehingga banyak orang yang memanfaatkan pasar murah untuk berbelanja kebutuhan.

 

Tembus Rp18 Ribu

Dari Waingapu Sumba Timur dilaporkan, di Pasar Inpres Matawai harga beras jenis medium dijual dengan harga Rp 16.000 per kilogram sedangkan jenis premium dijual dengan harga Rp. 18.000 per kilogram.

Salah satu pedagang beras, Paman Yanto mengaku, harga beras yang melonjak tajam membuatnya kesulitan karena jumlah pembeli menurun. Naiknya harga beras membuat masyarakat pembeli terpaksa mengurangi jumlah beras yang dibeli, dan hanya mampu berburu beras medium saja.

"Biasanya masyarakat dapat membeli beras hingga 10-20 kilogram, namun harga naik drastis sehingga maayarakat hanya mampu beli dua hingga tiga kilogram saja untuk penuhi kebutuhan sehari-hari," tambah Paman Yanto.

Warga Kambaniru, Mariana Rambu menilai harga beras sangat tinggi membuatnya terpaksa harus membeli beras dalam jumlah terbatas.

Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved