Opini
Refleksi Ekonomi dan Program Unggulan
Dengan kompleksitas ini, tidak semua program dapat dimutlakkan. Singkatnya, sering ada deviasi atau hal-hal yang belum memiliki penjelasan rasional.
Jawabannya menggunakan pisau analisis, dalam dunia kedokteran dikenal tahapan anamnesis yaitu kumpulan pertanyaan yang terarah terkait anatomi, fungsi, dan mekanisme kerja organ tubuh tertentu pasien.
Akumulasi informasi awal itu, bisa menduga apakah penyebab penyakit pada pasien itu. Anamnesis yang baik ialah 70 pern – 80 persen informasi untuk sampai pada diagnosis yang benar dan pengobatan yang tepat. (Muttaqin, 2024).
Catatan di atas mengisyaratkan, dimasa datang, amat mendesak diimplementasikan logika anamnesis, oleh pihak yang mempunyai otoritas-berbagai pengetahuan, konsep, dan strategi yang kredibel dalam penetapan program, sehingga layak secara normatif dan secara empiris efektif.
Landasan Paradigmatik
Diagnosis terhadap persoalan stunting, seharusnya bermuara pada akar masalah yaitu kemiskinan.
Dalam terang kesadaran seperti itu, kita harus keluar dari miskonsepsi yang sering melekat pada istilah “kemiskinan rakyat”. Dalam kesan umum, “kemiskinan” seolah dimaknai sebagai kondisi tak berdaya untuk memenuhi hajat hidup.
Amartya Sen, benar saat berhipotesis bahwa banyak kalangan salah paham mengenai kemiskinan, yang hanya dipahami sebatas kekurangan pendapatan.
Padahal, kurangnya pendapatan hanya konsekuensi dari kurangnya kemampuan dan kurangnya kesempatan.
Ini artinya, pemerintah belum menjamin kemampuan dan kesetaraan akses atas pekerjaan bagi keluarga miskin. Keluarga miskin hanya dipersepsi sebagai revenue raiser, bukan subyek yang memiliki sederat hak dasar.
Pada titik ini, hipotesis Sen memiliki keeratan yang kuat dengan program satu keluarga miskin, satu sarjana.
Ada argumen rasional dan alasan logis. Bagi mahasiswa yang berasal dari keluarga miskin, tentu mengalami kesulitan serius dengan beban biaya pendidikan yang sangat mahal.
Ini memang dilematis, terutama dikaitkan dengan kemampuan pemerintah yang terbatas dalam menyediakan anggaran pendidikan (tinggi).
Meskipun begitu, asumsi dasar dalam menilai kontribusi pendidikan adalah meningkatkan produktivitas pekerja yang selanjutnya menaikkan penghasilan.
Selalu diasumsikan manfaat dari kenaikan pendidikan, secara agregat akan lebih besar bagi keluarga miskin. Sehingga, ini menaikkan rasio sarjana juga sebagai afirmasi keluarga miskin atas semangat keadilan.
Dengan demikian, jika tingkat pendidikan meningkat, penghasilan keluarga miskin juga akan tumbuh lebih cepat dan akhirnya ketimpangan pendapatan akan mengecil.
| Opini: Seni Melepaskan Jabatan- Refleksi Atas Sikap Mgr. Paskalis Bruno Syukur |
|
|---|
| Opini: Membaca Problematika Stunting dan Kemiskinan di NTT dari Kacamata John Rawls |
|
|---|
| Opini: Hukum yang Berpihak dan Keadilan yang Patah |
|
|---|
| Opini: Perubahan Iklim dan Lonjakan Hama |
|
|---|
| Opini: Super Flu yang Viral di Media Sosial, Nyata di Dunia Medis |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/pengamat-penetapan-satu-harga-minyak-goreng-harus-diikuti-pengawasan-ketat.jpg)