KLB Rabies
29 Warga NTT Meninggal Dunia Akibat Rabies
Ia memastikan untuk VAR dan SAR saat ini sudah tersebar di seluruh puskemas yang ada di daerah sehingga bisa digunakan para korban gigitan.
Penulis: Irfan Hoi | Editor: Oby Lewanmeru
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - 29 warga Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggal dunia akibat tertular virus rabies.
Puluhan warga yang meninggal itu karena terlambat dibawa ke pusat layanan kesehatan untuk mendapat vaksin ataupun serum antirabies.
Kepala Dinas Kesehatan, Kependudukan dan Pencatatan Sipil NTT Ruth Laiskodat menyebut kasus kematian tertinggi ada di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dengan 11 kasus.
Sementara itu, di Kabupaten Sikka ada lima korban jiwa, Nagekeo satu kasus, TTU dua kasus, Manggarai Timur dua kasus, Ende lima kasus kemudian tiga kasus di Manggarai.
Baca juga: Pemerintah Pusat Siapkan Strategi Penanganan Darurat Rabies di Provinsi NTT
Dari sebaran itu, korban paling banyak merupakan anak-anak dengan rentang usia dari 3,5 sampai 15 tahun. Dalam catatan dinasnya korban paling banyak pada anak berusia 7 tahun dengan lima kasus. Sisanya korban di usia 24 - 64 tahun.
"Korban jiwa usia anak memang tertinggi terutama di bawah usia 15 tahun," kata Ruth Laiskodat, Selasa 28 November 2023.
Dia mengatakan, jumlah kematian ini sekitar 2 persen dari 17.860 korban gigitan anjing di wilayah NTT sepanjang 2023 ini. Ia lalu menyarankan agar korban bisa mencuci luka gigitan dengan air mengalir dan menggunakan sabun, jika memerlukan waktu ke faskes terdekat.
Baca juga: Pemprov NTT Tunggu Arahan BPNB Tangani Darurat KLB Rabies
Korban akan mendapat vaksin anti rabies (VAR) di fasilitas kesehatan maupun Serum Anti Rabies (SAR) bila mendapat gigitan di saraf vital atau area atas tubuh.
"Pasian yang tidak datang atau terlambat datang itu bisa berujung dengan kematian. Ada kematian karena gigitannya luar biasa dan tidak tertolong. Ada yang digigit sedikit tapi dianggap sepele sampai akhirnya sudah terlambat tertolong," tandas dia.
Ia memastikan untuk VAR dan SAR saat ini sudah tersebar di seluruh puskemas yang ada di daerah sehingga bisa digunakan para korban gigitan.
SAR yang dipakai hingga saat ini sudah 655 vial dan VAR yang dipakai sebanyak 46.046 vial. Ada penambahan lagi 20 ribu VAR.
Baca juga: Kabupaten Timor Tengah Utara Masuk Daerah Endemis Rabies
"Jadi kalau tergigit harus ke layanan kesehatan supaya bisa mendapatkan penanganan, ciri-cirinya nakes akan tahu, jangan terlambat karena itu berbahaya. Jadi kalau tergores atau digigit sedikit saja harus pakai protap rabies terlepas itu hewan rabies atau tidak," imbaunya.
Ia merinci dari 17.860 korban gigitan anjing di NTT itu 18 persennya berusia 5 tahun, 26 persen korban usia 5 - 9 tahun, 14 persen usia 10 - 14 tahun, 6 persen 15 - 19 tahun, 19 persen korban usia 20 - 45 tahun, 12 persen korban usia 46 - 64 tahun, dan 5 persen di atas 64 tahun.
"Jadi yang paling banyak itu anak-anak umur 5 sampai 9 tahun karena memang dekat dengan hewan anjing," ungkap dia.
Baca juga: Dinkes Provinsi NTT Fokus Penanganan Rabies di 13 Kabupaten
Ruth Laiskodat menyebut, kalau warga tidak ingin mengandangkan hewan penular rabies, maka disarankan untuk melakukan vaksin secara mandiri. Sebab petugas vaksinasi pun jumlahnya terbatas.
Menurut dia, capaian vaksinasi harus 70 persen dari populasi anjing di suatu daerah terpapar. Sejauh ini NTT baru mencapai 21 persen vaksinasi.
"Mestinya masyarakat mau datang untuk dibantu vaksin anjing mereka karena kalau tidak capai 70 persen itu maka kita tetap akan terancam. Kasihan anak-anak kita nanti," kata dia. (fan)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.