Berita Manggarai Barat
Menelusuri Nggilat di Manggarai Barat, Desa Terpencil Tanpa Akses Jalan dan Listrik
Kalaupun bisa, hanya kendaraan roda dua dan melewati jalur bebatuan di tengah hutan. Jika musim hujan jalan itu tak bisa dilewati.
Penulis: Engelbertus Aprianus | Editor: Rosalina Woso
50 Tahun Hidup Tanpa Listrik
Selama 50 tahun desa itu berdiri masyarakatnya belum menikmati aliran listrik. Salah satu pemicunya adalah lokasinya yang begitu terpencil dan sulit dijangkau.
Selama ini warga hanya memanfaatkan genset ataupun lampu bertenaga surya untuk menerangi malam mereka. Jika hendak melaksanakan acara keluarga atau pesta mereka harus menyiapkan genset dan bensin dengan belasan botol.
Ironi memang, tetapi itulah realita yang dirasakan masyarakat desa yang berada di utara Pulau Flores itu.
"Di sini tidak ada listrik, kita hanya pakai mesin genset kalau malam. Kondisi ini dirasakan masyarakat di sini selama puluhan tahun," ungkap Kepala Desa Nggilat, Elias Firgus Jani.
Masyarakat berulang kali mengajukan ke pemerintah agar di desa mereka bisa teraliri listrik, begitupun permohonan untuk membuka akses jalan ke sana. Namun semua harapan itu belum terwujud.
"Paling riskan masyarakat di sini kalau sakit, harus di bawah lagi ke Puskesmas Bari lewat jalur laut. Tapi kalau bulan Januari dan Februari itu tidak bisa lewat sama sekali karena cuaca buruk," ungkap Elias.
Lumbung Kedelai Manggarai Barat
Mayoritas warga Desa Nggilat adalah petani. Kebiasaan berladang itu telah mengakar sejak dulu. Tak heran Desa Nggilat disebut sebagai lumbung kedelai di Manggarai Barat. Tahun ini hasil kedelai dari petani Nggilat mencapai 30 ton, hasil itu disebut terus meningkat setiap tahunnya.
Baca juga: Kasus Pencabulan di Manggarai Barat, Polisi Terapkan Pidana Anak untuk 1 Pelaku

Elias menyebut potensi kedelai di Desa Nggilat memang besar. Hanya saja selama ini masyarakat sulit mengakses pasar untuk menjual hasil produksi mereka. Belum lagi biaya pengiriman yang tidak murah, salah satu faktornya karena tidak tersedia akses jalan.
"Biasanya hasil (kedelai) dibawa menggunakan jalur laut ke Pelabuhan Reo (Kabupaten Manggarai), atau ke Labuan Bajo. Harganya mahal karena diangkut lagi menggunakan kapal," ucap Elias.
Kondisi sulit yang berakar dari minimnya infrastruktur jalan ini masih membelenggu masyarakat di sana. (uka)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.