Berita Manggarai Barat
Hasil Panen Kedelai di Nggilat Manggarai Barat Capai 30 Ton, Pemerintah Bawa Offtaker
menjual hasil produksi mereka. Sementara di sisi lain masyarakat membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Penulis: Engelbertus Aprianus | Editor: Rosalina Woso
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Berto Kalu
POS-KUPANG.COM, LABUAN BAJO - Hasil panen kedelai di Desa Nggilat, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, tahun ini mencapai 30 ton.
Komoditas strategis yang menjadi kebutuhan bagi masyarakat Indonesia itu di panen di lahan seluas 45 hektare di Desa Nggilat pada Juni lalu.
Pihak Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan Kabupaten Manggarai Barat, Dinas Pertanian Provinsi NTT bersama staf Kementerian Pertanian melakukan pengecekan langsung hasil panen itu, Rabu 6 September 2023.
Mereka juga membawa Offtaker untuk menyerap langsung hasil produksi petani di sana.
Baca juga: Bupati Manggarai Barat Sebut Wisata Halal Ancam Keharmonisan Masyarakat Labuan Bajo
"Kita sedang merancang kerja sama dengan salah satu perusahaan dari Jakarta sebagai offtaker kedelai di Desa Nggilat dan Manggarai Barat secara keseluruhan, saat ini kita datangkan dia," kata Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Manggarai Barat, Laurensius Halu.
Laurensius berharap, peluang ini dapat dimanfaatkan secara baik oleh masyarakat dalam rangka meningkatkan ekonomi masyarakat di sana. Pasalnya selama ini masyarakat kesulitan mengakses pasar untuk menjual hasil produksi mereka.
"Berbicara tentang pasar tentu ada kaitannya dengan harga, itu ranah dari petani dan offtaker untuk mendiskusikan itu, pemerintah masuk pada sektor hiril bagaimana ketersediaan sarana produksi yang sudah kami lakukan di tahun ini," ujarnya.
Selain itu, lanjut dia, peningkatan produksi kedelai di wilayah Manggarai Barat sejauh ini terus dilakukan dengan berbagai terobosan baik dari sisi perbenihan, budidaya, hilirisasi offtaker hingga jangkauan pasar.
"Sebagai bukti keseriusan pemerintah, kita saat ini telah melakukan transaksi antara offtaker dan petani, ini bagian sprit pemerintah daerah untuk memberikan dorongan kepada masyarakat bahwa peluang kedelai itu tidak main-main," kata Laurensius.
Kepala Desa Nggilat, Elias Firgus Jani menyebut potensi kedelai di Desa Nggilat sangat besar, hal itu bisa dilihat dari hasil panen yang terus meningkat setiap tahun.
Hanya saja selama ini masyarakat sulit mengakses pasar untuk menjual hasil produksi mereka. Sementara di sisi lain masyarakat membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup.
"Perkembangan kemarin karena harga kedelai kurang menguntungkan, sehingga masyarakat beralih tanam kacang hijau karena harganya lebih tinggi," ungkapnya.
Baca juga: Polres Manggarai Barat Bentuk Kampung Bebas Narkoba di Labuan Bajo
Kehadiran pemerintah dan offtaker, menurut Elias menjawab kesulitan masyarakat dalam mengakses pasar.
"Sehingga kedepan semangat masyarakat di sini untuk menanam kedelai semakin besar dan dipermudahkan, karena dari sisi ekonomi lebih menguntungkan," pungkasnya.
Petani di Desa Nggilat juga mendapat bantuan Kementrian Pertanian melalui Direktorat Aneka Kacang dan Ubi yang diberikan setiap tahun.
Bantuan itu di antaranya, benih 50 kg per hektare, pupuk hayati cair 3 liter per hektare, pupuk NPK 50 kg per hektare, dan pestisida 1 liter per hektare.(*)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.