Berita Kota Kupang
Elia Maggang: Kampus UKAW Punya Peluang Pengembangan Teologi Maritim
Teologi Maritim dapat dikembangkan dari lingkungan kampus dan wilayah pelayanan GMIT di Oesapa ungkap Elia.
Teologi yang bercorak maritim sebenarnya sudah hidup dalam komunitas-komunitas tertentu. Namun, memang harus diakui bahwa, kemaritiman itu belum menjadi ciri atau karakter begereja di Indonesia.
“Bertolak dari kata maritim dalam arti yang sangat luas yaitu yang merujuk kepada relasi manusia dengan laut atau pada bagaimana manusia meresponi keberadaan dan daya laut, teologi maritim adalah teologi yang berbicara tentang relasi manusia dengan laut yang dinavigasi oleh perjumpaan timbal balik teologi Kristen dengan laut dan interaksinya/keterhubungannya dengan makhluk dan elemen ciptaan lainnya. Dengan penekanan kepada relasi dan interaksi manusia dengan laut, teologi maritim telah berlayar lebih jauh dari yang disebut teologi biru yang hanya terfokus kepada laut. Sementara teologi biru membangun refleksi teologi bagi laut, teologi maritim menghasilkan refleksi-refleksi teologi bagi dan dengan laut. Dalam teologi maritim, laut diperlakukan sebagai subjek karena bukan saja nilai intrinsik-nya yang dihargai, tetapi juga agency/perannya yang telah memberi atau mendukung kehidupan secara ekologis maupun sosial”, tutur suami Debora Maggang Lulu Leo ini.
Selanjutnya Elia, yang ayahnya juga seorang pendeta GMIT, yaitu Pdt Zadrack Maggang (almarhum) mengatakan dalam berteologi maritim, laut adalah sumber berteologi. Dengan mengakui dan merengkuh nilai intrinsik serta agency laut yang sebenarnya dapat ditemui dalam Alkitab, teologi maritim mengakui dan menempatkan laut sebagai sumber berteologi, subjek yang dengan daya yang diberikan Roh Kudus dapat berkontribusi dalam konstruksi teologis dan refleksi-refleksi iman.
Sebab, sebagaimana ditegaskan Sigurd Bergmann, dengan mendiami setiap ciptaan, Roh Kudus bekerja di dan dengan setiap ciptaan itu dalam memberi dan membarui kehidupan, karena Roh Kudus dapat bekerja dengan apa dan siapa pun serta dengan cara apapun.
Menyelami karya Roh Kudus yang seperti itu akan membuat kita terkejut tetapi juga terkagum dan terpesona. Nilai intrinsik dan agency laut itu direkam dan dihidupi oleh komunitas-komunitas maritim dalam budaya dan berbagai tradisi mereka yang dibentuk oleh laut. Laut dan tradisi-tradisi itu mengandung daya yang diberikan Roh Kudus atau jejak karya Roh Kudus yang memberi dan membarui kehidupan.
“Dengan perspektif ini sebagai navigasi, teologi maritim adalah sebuah diskursus dengan (with) laut atau berteologi dengan kemaritiman itu sendiri. Teologi maritim menempatkan dirinya sebagai bagian integral dari kemaritiman itu sendiri dan berteologi dari kemaritimannya”, tambah ayah dari purti Arwen Maggang.
Salah satu langkah penting, menurut Maggang, yang perlu dilakukan adalah dekolonisasi teologi. Hal ini bisa dilakukan di Indonesia dan inilah salah satu prospek sangat menjanjikan bagi pengembangan teologi maritim di Indonesia.
''Yang lebih menarik dari prospek berteologi maritim adalah bahwa teologi maritim yag lahir dari Indonesia itu dapat memiliki ciri inter-religious yang kuat dan yang tidak ditemukan di Oceania, misalnya. “Tentu saja, prospek ini bukan hanya menjawab kebutuhan dunia tadi, melainkan juga untuk menampakkan identitas Kekristenan Indonesia yang dicirikan oleh konteks kemaritimannya dalam berteologi dan bergereja, karena itu akan membuat kekristenan Indonesia relevan dan autentik”, kata Maggang menutup percakapannya dengan POS-KUPANG.COM.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Elia-Magang.jpg)