Kamis, 14 Mei 2026

Berita Kota Kupang

Elia Maggang: Kampus UKAW Punya Peluang Pengembangan Teologi Maritim

Teologi Maritim dapat dikembangkan dari lingkungan kampus dan wilayah pelayanan GMIT di Oesapa ungkap Elia.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Ryan Nong
POS-KUPANG.COM/ISTIMEWA
Elia Maggang- Teologi maritim adalah teologi yang berbicara tentang relasi manusia dengan laut yang dinavigasi oleh perjumpaan timbal balik teologi Kristen dengan laut dan interaksinya/keterhubungannya dengan makhluk dan elemen ciptaan lainnya. 

POS-KUPANG.COM,KUPANG- Para teolog dan calon teolog Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) mempunyai peluang besar untuk mengembangkan teologi maritim di Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) khususnya dan di Indonesia Umumnya.

Hal ini disampaikan Elia Maggang pria kelahiran Kabir, Kabupaten Alor dalam orasinya mengenai Teologi Maritim di hadapan para dosen, tenaga kependidikan, para mahasiswa dan para alumni Pascasarjana UKAW, di Kampus UKAW Kupang. 

Menurut Elia Maggang, yang baru saja memperoleh gelar doktor dari Universitas Menchester ini, teologi maritim adalah teologi yang berbicara tentang relasi manusia dengan laut yang dinavigasi oleh perjumpaan timbal balik teologi Kristen dengan laut dan interaksinya/keterhubungannya dengan makhluk dan elemen ciptaan lainnya.

Teologi Maritim dapat dikembangkan dari lingkungan kampus dan wilayah pelayanan GMIT di Oesapa. 

''Di situ, ada pasar di tepi laut yang sangat kotor (limbahnya langsung masuk ke laut), ada beberapa jemaat GMIT dan Masjid juga. Di dekat pasar juga ada kali atau sungai yang mengalir dari pedalaman Kupang. Jadi, wilayah ini sebenarnya bisa menjadi ruang berteologi maritim yang sekaligus berdampak bagi relasi masyarakat pesisir Oesapa dengan laut mereka dalam berbagai aspek: ekologis, sosial termasuk ekonomi dan lain sebagainya”,ujarnya saat dihubungi POS-KUPANG.COM Jumat 25 Agustus 2023.

Elia menjelaskan, Teologi maritim berasal dari dunia maritim Indonesia sehingga bertali-temali dengan identitas kemaritiman Indonesia, yaitu sebuah komunitas yang terdiri dari air/lautan dan tanah/daratan dan segala isinya dalam interaksi sebagai satu komunitas.

Karena itu, yang berelasi dengan laut adalah semua orang di mana pun mereka tinggal, di pesisir maupun pedalaman.

Inilah salah satu alasan mengapa dirinya tidak memakai istilah teologi bahari karena bahari lebih dekat definisinya dan kesannya yang secara ekslusif dengan komunitas pesisir.

Sedangkan, relasi dengan laut itu harus melibatkan komunitas pedalaman secara aktif.

''Apalagi, hasil riset Matt Landos dan teman-teman dari International Pollutants Elimination Network, mayoritas polusi di laut berasal dari masyarakat pedalaman. Maka, dengan istilah maritim yang melekat pada identitas kemaritiman Indonesia, teologi maritim secara konstruktif membangun refleksi-refleksi teologis yang juga melibatkan komunitas pedalaman, baik pandangan mereka tentang laut maupun tradisi-tradisi atau praktik-praktik yang berimplikasi pada laut. Strategi ini juga sangat penting karena ia akan berimplikasi positif pada diskursus teologi di dunia yang cenderung menganggap urusan laut itu urusan pesisir saja atau urusan komunitas-komunitas seperti di Oceania saja”, tambah Elia Maggang yang juga alumni UKAW ini

Magang yang juga menyelesaikan S2 di Flinders University pada tahun 2017 mengatakan, dua per tiga wilayah Indonesia adalah lautan.

Sehingga tidak heran jika Indonesia disebut sebagai negara maritim yang besar. Bahkan, jika memakai terminologi archipelago, Indonesia diakui sebagai negara archipelagic terbesar di dunia.

Maka, menyelami dan memaknai identitas kemaritiman serta mengembangkannya merupakan sebuah keharusan. Apalagi dunia maritim Indonesia memiliki potensi yang sangat besar secara ekologis dan sosial, tetapi sedang berada di dalam krisis ekologis (kerusakan terumbu karang dan ekosistem laut, serta polusi laut) dan sosial (kemiskinan masyarakat pesisir, konflik nelayan, dst.).

Gereja dan institusi pendidikan tinggi lanjut Magang, harus dapat berperan di upaya itu.

Apalagi, gereja sendiri berkepentingan untuk merengkuh kemaritiman itu sebagai identitasnya juga. Berteologi maritim adalah salah satu cara yang dapat ditempuh untuk upaya itu.

Teologi yang bercorak maritim sebenarnya sudah hidup dalam komunitas-komunitas tertentu. Namun, memang harus diakui bahwa, kemaritiman itu belum menjadi ciri atau karakter begereja di Indonesia.

“Bertolak dari kata maritim dalam arti yang sangat luas yaitu yang merujuk kepada relasi manusia dengan laut atau pada bagaimana manusia meresponi keberadaan dan daya laut, teologi maritim adalah teologi yang berbicara tentang relasi manusia dengan laut yang dinavigasi oleh perjumpaan timbal balik teologi Kristen dengan laut dan interaksinya/keterhubungannya dengan makhluk dan elemen ciptaan lainnya. Dengan penekanan kepada relasi dan interaksi manusia dengan laut, teologi maritim telah berlayar lebih jauh dari yang disebut teologi biru yang hanya terfokus kepada laut. Sementara teologi biru membangun refleksi teologi bagi laut, teologi maritim menghasilkan refleksi-refleksi teologi bagi dan dengan laut. Dalam teologi maritim, laut diperlakukan sebagai subjek karena bukan saja nilai intrinsik-nya yang dihargai, tetapi juga agency/perannya yang telah memberi atau mendukung kehidupan secara ekologis maupun sosial”, tutur suami Debora Maggang Lulu Leo ini.

Selanjutnya Elia, yang ayahnya juga seorang pendeta GMIT, yaitu Pdt Zadrack Maggang (almarhum) mengatakan dalam berteologi maritim, laut adalah sumber berteologi. Dengan mengakui dan merengkuh nilai intrinsik serta agency laut yang sebenarnya dapat ditemui dalam Alkitab, teologi maritim mengakui dan menempatkan laut sebagai sumber berteologi, subjek yang dengan daya yang diberikan Roh Kudus dapat berkontribusi dalam konstruksi teologis dan refleksi-refleksi iman.

Sebab, sebagaimana ditegaskan Sigurd Bergmann, dengan mendiami setiap ciptaan, Roh Kudus bekerja di dan dengan setiap ciptaan itu dalam memberi dan membarui kehidupan, karena Roh Kudus dapat bekerja dengan apa dan siapa pun serta dengan cara apapun.

Menyelami karya Roh Kudus yang seperti itu akan membuat kita terkejut tetapi juga terkagum dan terpesona. Nilai intrinsik dan agency laut itu direkam dan dihidupi oleh komunitas-komunitas maritim dalam budaya dan berbagai tradisi mereka yang dibentuk oleh laut. Laut dan tradisi-tradisi itu mengandung daya yang diberikan Roh Kudus atau jejak karya Roh Kudus yang memberi dan membarui kehidupan.

“Dengan perspektif ini sebagai navigasi, teologi maritim adalah sebuah diskursus dengan (with) laut atau berteologi dengan kemaritiman itu sendiri. Teologi maritim menempatkan dirinya sebagai bagian integral dari kemaritiman itu sendiri dan berteologi dari kemaritimannya”, tambah ayah dari purti Arwen Maggang.

Salah satu langkah penting, menurut Maggang,  yang perlu dilakukan adalah dekolonisasi teologi. Hal ini bisa dilakukan di Indonesia dan inilah salah satu prospek sangat menjanjikan bagi pengembangan teologi maritim di Indonesia.

''Yang lebih menarik dari prospek berteologi maritim adalah bahwa teologi maritim yag lahir dari Indonesia itu dapat memiliki ciri inter-religious yang kuat dan yang tidak ditemukan di Oceania, misalnya.  “Tentu saja, prospek ini bukan hanya menjawab kebutuhan dunia tadi, melainkan juga untuk menampakkan identitas Kekristenan Indonesia yang dicirikan oleh konteks kemaritimannya dalam berteologi dan bergereja, karena itu akan membuat kekristenan Indonesia relevan dan autentik”, kata Maggang menutup percakapannya dengan POS-KUPANG.COM.

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved