Berita Kota Kupang
Elia Maggang: Kampus UKAW Punya Peluang Pengembangan Teologi Maritim
Teologi Maritim dapat dikembangkan dari lingkungan kampus dan wilayah pelayanan GMIT di Oesapa ungkap Elia.
POS-KUPANG.COM,KUPANG- Para teolog dan calon teolog Universitas Kristen Artha Wacana (UKAW) mempunyai peluang besar untuk mengembangkan teologi maritim di Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) khususnya dan di Indonesia Umumnya.
Hal ini disampaikan Elia Maggang pria kelahiran Kabir, Kabupaten Alor dalam orasinya mengenai Teologi Maritim di hadapan para dosen, tenaga kependidikan, para mahasiswa dan para alumni Pascasarjana UKAW, di Kampus UKAW Kupang.
Menurut Elia Maggang, yang baru saja memperoleh gelar doktor dari Universitas Menchester ini, teologi maritim adalah teologi yang berbicara tentang relasi manusia dengan laut yang dinavigasi oleh perjumpaan timbal balik teologi Kristen dengan laut dan interaksinya/keterhubungannya dengan makhluk dan elemen ciptaan lainnya.
Teologi Maritim dapat dikembangkan dari lingkungan kampus dan wilayah pelayanan GMIT di Oesapa.
''Di situ, ada pasar di tepi laut yang sangat kotor (limbahnya langsung masuk ke laut), ada beberapa jemaat GMIT dan Masjid juga. Di dekat pasar juga ada kali atau sungai yang mengalir dari pedalaman Kupang. Jadi, wilayah ini sebenarnya bisa menjadi ruang berteologi maritim yang sekaligus berdampak bagi relasi masyarakat pesisir Oesapa dengan laut mereka dalam berbagai aspek: ekologis, sosial termasuk ekonomi dan lain sebagainya”,ujarnya saat dihubungi POS-KUPANG.COM Jumat 25 Agustus 2023.
Elia menjelaskan, Teologi maritim berasal dari dunia maritim Indonesia sehingga bertali-temali dengan identitas kemaritiman Indonesia, yaitu sebuah komunitas yang terdiri dari air/lautan dan tanah/daratan dan segala isinya dalam interaksi sebagai satu komunitas.
Karena itu, yang berelasi dengan laut adalah semua orang di mana pun mereka tinggal, di pesisir maupun pedalaman.
Inilah salah satu alasan mengapa dirinya tidak memakai istilah teologi bahari karena bahari lebih dekat definisinya dan kesannya yang secara ekslusif dengan komunitas pesisir.
Sedangkan, relasi dengan laut itu harus melibatkan komunitas pedalaman secara aktif.
''Apalagi, hasil riset Matt Landos dan teman-teman dari International Pollutants Elimination Network, mayoritas polusi di laut berasal dari masyarakat pedalaman. Maka, dengan istilah maritim yang melekat pada identitas kemaritiman Indonesia, teologi maritim secara konstruktif membangun refleksi-refleksi teologis yang juga melibatkan komunitas pedalaman, baik pandangan mereka tentang laut maupun tradisi-tradisi atau praktik-praktik yang berimplikasi pada laut. Strategi ini juga sangat penting karena ia akan berimplikasi positif pada diskursus teologi di dunia yang cenderung menganggap urusan laut itu urusan pesisir saja atau urusan komunitas-komunitas seperti di Oceania saja”, tambah Elia Maggang yang juga alumni UKAW ini
Magang yang juga menyelesaikan S2 di Flinders University pada tahun 2017 mengatakan, dua per tiga wilayah Indonesia adalah lautan.
Sehingga tidak heran jika Indonesia disebut sebagai negara maritim yang besar. Bahkan, jika memakai terminologi archipelago, Indonesia diakui sebagai negara archipelagic terbesar di dunia.
Maka, menyelami dan memaknai identitas kemaritiman serta mengembangkannya merupakan sebuah keharusan. Apalagi dunia maritim Indonesia memiliki potensi yang sangat besar secara ekologis dan sosial, tetapi sedang berada di dalam krisis ekologis (kerusakan terumbu karang dan ekosistem laut, serta polusi laut) dan sosial (kemiskinan masyarakat pesisir, konflik nelayan, dst.).
Gereja dan institusi pendidikan tinggi lanjut Magang, harus dapat berperan di upaya itu.
Apalagi, gereja sendiri berkepentingan untuk merengkuh kemaritiman itu sebagai identitasnya juga. Berteologi maritim adalah salah satu cara yang dapat ditempuh untuk upaya itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Elia-Magang.jpg)