Opini
Opini Marianus Kleden, Kesembronoan Rocky Gerung
Apanya yang bajingan dan apanya yang tolol tidak dijelaskan. Rocky seperti suka ditepuktangani oleh massa yang terhipnotis oleh retorika kosong.
Kita tidak membahas ini, tetapi sebagai perbandingan, kalau raja dan imam adalah martabat, maka presiden juga martabat. Kata dignity sendiri berasal dari bahasa Latin dingus yang berarti layak dan pantas.
Jokowi layak dan pantas menjadi presiden karena dari teori politik dia memenuhi prasyarat konstituensi, kompetensi dan integritas. Ketiga kualitas ini meempatkan dia pada posisi tinggi, dan posisi yang tinggi serta kemampuannya mengemban tugasnya dengan baik membuat dia patut dihormati.
Baca juga: Opini Thomas Dohu: Pemilih Pemilu Serentak 2024
Kengawuran Rocky yang ketiga adalah kesenangannya melakukan conjecture, yaitu membuat pernyataan tanpa informasi yang lengkap.
Dia misalnya mengatakan bahwa NTT mengalami defisit protein karena praktik perawatan pascamelahirkan yang salah.
Kapan Rocky melakukan penelitian tentang defisit protein, kapan dia melakukan penelitian tentang tradisi perawatan pascakelahiran.
Mana análisis korelasi dan regresinya. Jadi, kita tidak bisa seenak wudel membuat pertanyaan tentang sebuah realitas tanpa pengamatan yang cukup.
Kengawuran Rocky yang keempat adalah ketidaktajaman dalam distingsi konsep. Ketika wartawan bertanya, koq bisa-bisanya memberikan predikat bajingan kepada Jokowi, Rocky dengan enteng menjawab, bajingan adalah sebuah posisi terhormat dalam tradisi kerajaan sebagai kusir gerobak sapi yang paguyuban antarkusirnya terjaga dengan baik.
Baca juga: Opini Eduardus Johanes Sahagun: Potret Keluarga Berisiko Stunting di NTT
Cara menjawab ini kan kacau, karena Rocky sedang menyerang Jokowi pada level yang paling sarkastis. Masakan dia membalikkan konsep serangan menjadi pujian? Hal yang sama juga terjadi ketika Mahfud MD mengkritisi Rocky sebagai pribadi yang hanya tahu mengeritik tanpa solusi.
Kata Mahfud, ini kan sama dengan menulis proposal tanpa melakukan penelitian dengan kesimpulan dan saran. Rocky berkelit dengan mengatakan, saya mengeritik tidak dalam kapasitas sebagai akademisi tetapi sebagai warga negara. Lho, pernyataan ini bertentangan prinsip identitas: Rocky = akademisi = warga negara.
Terakhir Rocky mengeritik Jokowi yang menyebut Pancasila sebagai ideologi. Sampai di sini kita setuju, karena dengan menerima Pancasila sebagai ideologi kita tidak boleh mendiskusikannya apalagi mempersoalkannya.
Masalahnya Rocky megutip dua presiden sekaligus. Rocky mengutip Bung Karno yang menyebut Pancasila sebagai phisophische groondslag atau dasar falsafah hidup bernegara. Rocky juga mengutip Pak Harto yang menyebut Pancasila sebagai asas tunggal.
Rocky tidak sadar bahwa memperlakukan Pancasila sebagai asas tunggal sama dengan memperlakukan Pancasila sebagai ideologi karena di sini Pancasila diinterpretasikan secara sentralistik, diindroktinasikan ke semua level dan tertutup ruang untuk mendiskusikannya.
Baca juga: Opini Leta R Levis: Petani Milenial Ancaman Masa Depan Pertanian
Sampai di sini kita mesti menyimpulkan bahwa Rocky Gerung adalah pribadi yang bermasalah.
Selain empat kesalahan logis yang telah saya perlihatkan di atas, Rocky juga memiliki nurani yang tidak bersih.
Kalau seluruh tindakan Jokowi salah, maka ini hanya bisa disampaikan oleh orang yang bernurani kotor.
Selebihnya Rocky juga menderita penyakit intellectual megalomania, merasa diri paling besar secara intelektual, padahal dia hanya berbusa-busa dari satu talkshow ke talkshow tanpa melakukan penelitian dan publikasi.
Sementara dalam dunia akademik berlaku prinsip publish or perish. Rocky sesungguhnya seorang yang ngawur dan sembrono tetapi telanjur diberi panggung yang luas. Sekarang saatnya kita menghentikan kesalahan ini! (Penulis adalah Dosen FISIP Unwira Kupang)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/dekan-fisip-unwira-kupang-drs-marianus.jpg)