Senin, 27 April 2026

Opini

Opini Marianus Kleden, Kesembronoan Rocky Gerung

Apanya yang bajingan dan apanya yang tolol tidak dijelaskan. Rocky seperti suka ditepuktangani oleh massa yang terhipnotis oleh retorika kosong.

Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/BERTO KALU
Dekan FISIP Unwira Kupang, Drs. Marianus Kleden,M.Si 

POS-KUPANG.COM - Dalam beberapa kesempatan Rocky Gerung memperlihatkan ketajaman analisisnya, tetapi jauh lebih banyak kesempatan lain Rocky hanya mendemonstrasikan kengawurannya bahkan kesembronoannya.

Kengawuran Rocky bisa dikelompokkan dalam empat kategori, yaitu pertama, Rocky terlalu sering menggunakan argumentum ad hominem dan jarang  sekali menggunakan argumentum ad rem; kedua, Rocky secara arbitrer merumuskan konsep secara salah dan memaksakan konsep itu kepada khalayak sembari berpikir bahwa apa yang dikatakannya benar dan yang dikatakan orang lain salah; ketiga, Rocky sering sekali melakukan conjecture, yaitu menyampaikan pandangan atau pendapat yang tidak didasarkan atas informasi yang lengkap; keempat, Rocky tidak tajam dalam distingsi konsep, dan mencampuradukkan konsep sebagai dalih menghindari kontraargumen lawan. Mari kita lihat satu per satu.

 Pertama, Rocky terlalu sering menggunakan argumentum ad hominem (argumen yang menyerang orang), ketimbang argumentum ad rem (argumen yang menganalisis persoalan). Ucapan sarkastis Rocky terbaru adalah, Jokowi bajingan yang tolol.

Apanya yang bajingan dan apanya yang tolol tidak dijelaskan. Rocky seperti suka ditepuktangani oleh massa yang terhipnotis oleh retorika kosong.

Baca juga: Opini - Menginisiasi Rekonsiliasi Politik di Wilayah Pedesaan

Massa sendiri kemudian tidak tahu  apa yang ditepuktangani kecuali ucapan sarkastis yang menyerang orang. Kata ‘bajingan’ itu secara leksikal mempunyai dua arti, yaitu pertama, pencuri, dan kedua kurang ajar.

Makna yang kedua sering terkandung dalam kata seru ‘bajingan!’ yang ditujukan kepada orang yang melakukan kejahatan besar seperti perampokan, pemerkosaan, pembunuhan atau pencurian. Sedangkan kata tolol bolehlah dimengerti sebagai superlatif dari bodoh.

Sebagai warga negara yang mengkritisi pejabat publik, Rocky harus bisa membuktikan berapa kekayaan negara yang ditilep Jokowi dan perbuatan kriminal apa yang telah dilakukan Jokowi.

Seorang pejabat publik yang melakukan tindak pidana korupsi pasti sudah disoroti oleh media yang paling berwibawa seperti Kompas dan Tempo, ditelisik oleh lembaga pemerhati korupsi seperti ICW dan sudah dibahas panjang lebar oleh media asing.

Baca juga: Opini Frits Fanggidae: Konsumsi Pangkal Kaya!

Demikian pula kalau kebajinganan itu dimengerti sebagai tindakan kriminal yang merugikan individu tertentu, kelompok atau bangsa, maka data itu harus diperlihatkan.

Lucunya, kebajinganan itu dihubungkan dengan kunjungan Jokowi ke China yang, dalam pandangan Rocky, dilakukan untuk mencari dana pembangunan IKN.

Kunjungan Jokowi ke China dilihat sebagai kecemasan egoistik tentang legacy pasca-purnatugas. Jokowi dikatakan akan menjadi orang biasa yang gelisah dengan keadaannya, karena terekspos pada cibiran orang.

Rocky seperti tidak mengerti psikologi jabatan publik. Setiap pejabat publik di akhir masa jabatannya akan mengalami dua hal.

Baca juga: Opini - Tawaran Jainisme bagi Keharmonisan Hidup Manusia

Bila dia sangat ambisius dengan kekuasaan, maka seorang pejabat publik akan mengalami post-power syndrome yaitu perasaan resah-gelisah karena kini tidak ada pihak lagi yang bisa diperintah dan disuruh-suruh.

Sebaliknya kalau seorang pejabat publik mendedikasikan masa baktinya demi kepentingan publik, maka kerisauannya hanya satu: apakah hal-hal baik yang sudah dihasilkannya bisa dilanjutkan oleh penggantinya.

Inilah yang membuat Jokowi melakukan komunikasi dengan berbagai koalisi kekuatan politik agar dapat terpilih pengganti yang bisa meneruskan karya-karya yang sudah dirintisnya.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved