Senin, 27 April 2026

Opini

Opini Marianus Kleden, Kesembronoan Rocky Gerung

Apanya yang bajingan dan apanya yang tolol tidak dijelaskan. Rocky seperti suka ditepuktangani oleh massa yang terhipnotis oleh retorika kosong.

Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/BERTO KALU
Dekan FISIP Unwira Kupang, Drs. Marianus Kleden,M.Si 

Kalau toh kunjungan ke China adalah mencari dana bagi kelangsungan pembangunan IKN, maka terlihat di sini betapa bertanggung jawabnya Jokowi terhadap sebuah karya yang sudah dimulainya dan meyakinan dirinya bahwa karya yang sudah dirintis itu tidak mangkrak karena dua hal, alasan politik karena penggantinya, bila tidak datang dari kubu yang sama, akan menelantarkan proyek itu, dan alasan ekonomi, tidak cukup dana untuk melanjutkannya.

Baca juga: Opini dr Adrianus Andri, Stunting: Apa, Penyebab, Cara Mengenali dan Upaya Pencegahannya?

Kedua alasan ini membuat Jokowi melakukan dua hal yaitu komunikasi dengan berbagai partai politik sealiran, dan melakukan berbagai upaya, termasuk kunjungan ke luar negeri untuk mencari dana.

Orang mengeritik IKN sebagai pemborosan, tetapi bila dipelajari sejarah, semua karya besar pasti membutuhkan pengorbanan, sejauh pengorbanan  itu tidak mematikan kelangsungan hidup warga.

Sekadar ilustrasi, kalau seorang pegawai meminjam Rp.100 juta dari bank untuk membangun rumah, maka dia dan istrinya harus mengencangkan ikat pinggang untuk tidak membeli daging atau baju baru.

IKN adalah sebuah kebijakan yang sangat visioner, yaitu mendesentralisasi Jawasentrisme dan mendekonsentrasi kekayaan negara yang terpusat di Jakarta.

IKN juga harus diapresiasi secara ekologis, karena dengan itu kita membangun sebuah ibukota negara yang bebas banjir dan bebas polusi. Coba dikalkulasi berapa besar dana negara yang harus dikeluarkan  setiap tahun untuk membebaskan Jakarta dari terjangan banjir, dan berapa banyak uang  yang harus digelontorkan untuk melindungi 10 juta warga dari paparan karbonmonoksida yang diemisi oleh jutaan kendaraan.

Rocky hanya mengeritik dan tidak pernah melakukan análisis tentang plus minus pemindahan ibu kota.

Baca juga: Opini Yosua Noak Douw: Berbagi Ihwal Perkara SDM Unggul dari Tolikara

Jokowi juga tidak risau dengan masa purnatugas, karena 82 persen dari 270 juta penduduk merasa puas dengan kepemimpinannya, bahkan di bulan-bulan terakhir menjelang lengser dari kursi orang nomor satu.

Kepuasan 82 persen warga negara secara telak menegasikan pernyataan Rocky yang mengatakan bahwa Jokowi ingat diri dan tidak memperhatikan kepentingan rakyat. 

Coba bandingan dengan tingkat kepuasan masyarakat terhadap kepemimpinan SBY di akhir masa jabatannya yang hanya mencapai 40,5 persen.

Di sini sesungguhnya kita sudah berhadapan dengan kengawuran Rocky Gerung kategori 2 dan 3, yaitu pernyataan yang serba arbitrer (pernyataan seenak wudel tanpa dasar) dan conjecture yaitu pertanyaan tanpa didasari informasi yang lengkap

Dari kategori pertama, predikat tolol yang dialamatkan kepada Jokowi juga tidak berdasar. Tolol itu lawan dari cerdas, dan kecerdasan itu bisa diukur dengan dua indikator yaitu logika verbal dan logika numerik.

Seorang cerdas dapat mengungkapkan gagasan dalam bahasa yang bersih dan dimengerti khalayak.

Dia juga mampu mendeskripsikan realitas yang sekarang dan yang akan datang dengan kalkulasi matematik yang akuntabel.

Seorang yang berada di puncak kekuasaan selama 10 tahun dan mengayomi 270 juta jiwa tanpa turbulensi politik yang berarti tidak mungkin bodoh.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved