Breaking News

KKB Papua

Pengamat Militer: Kalau Egianus Kogoya Nekad Tembak Pilot, Operasi Penumpasan KKB Pasti Dilakukan

Pengamat Militer dari Institute for Security and Strategic Studies Khairul Fahmi, angkat bicara terkait ancaman Egianus Kogoya menembak pilot Susi Air

|
Editor: Frans Krowin
POS-KUPANG.COM/kolase foto
TUMPAS KKB - Pengamat Militer, Khairul Fahmi meminta KKB tidak menembak pilot Susi Air. Selain karena pertimbangan kemanusiaan, tindakan KKB Juga bisa jadi dasar bagi TNI Polri lakukan operasi penumpasan KKB di Tanah Papua. 

POS-KUPANG.COM - Pengamat Militer dari  ISESS ( Institute for Security and Strategic Studies ) Khairul Fahmi, angkat bicara terkait ancaman Egianus Kogoya akan menembak pilot Susi Air yang selama ini telah disandera.

Khairul Fahmi mengatakan, jika benar pilot itu akan ditembak Kelompok Kriminal Bersenjata tersebut, maka hal itu akan memudahkan TNI Polri memberlakukan operasi penumpasan KKB Papua di Tanah Papua.

Ia melontarkan pernyataan tersebut merespon ancaman Egianus Kogoya yang akan menembak pilot Susi Air Philips Mark Merthens jika permintaan mereka tak dipenuhi oleh pemerintah Indonesia dan pemerintah Australia.

Khairul Fahmi juga menguatkan pernyataan Kapuspen TNI ( Kepala Pusat Penerangan TNI ) Laksamana Muda Julius Widjojono mengatakan bahwa apabila KKB benar-benar menembak Philips, maka hal itu akan memudahkan aparat untuk menegakkan operasi penumpasan kelompok separatis teroris.

"Menurut saya, tidak ada yang salah dengan pernyataan Kapuspen TNI. Itu bukanlah pernyataan yang reaktif, minim empati, dan gegabah," tandas Khairul kepada Kompas.com, Sabtu 1 Juli 2023.

Menurut Khairul Fahmi, apabila KKB Papua benar-benar menembak Philips Mark Merthens, maka hal itu akan menjadi dasar bagi TNI Polri untuk melakukan operasi penumpasan kelompok separatis teroris tersebut.

Selain itu, lanjut dia, tekanan dan risiko yang dihadapi aparat dalam operasi pun otomatis berkurang. Karena TNI Polri menerjunkan kekuatan penuh untuk membasmi kelompok kriminal yang menyusahkan masyarakat.

"Jadi, operasi sepenuhnya akan dilakukan untuk menegakkan hukum terhadap para pelaku kejahatan sekaligus mengevakuasi korban," jelas Khairul.

Khairul juga menyebutkan bahwa pemerintah Selandia Baru yang merupakan negara asal Philips Mark Merthens pasti menyadari bahwa tidak ada satu pun negara yang mau ditekan untuk mempertaruhkan atau bahkan menggadaikan kedaulatannya.

Baca juga: Kapolda Siapkan Rp 5 M untuk KKB Papua Tapi Uang Baru Diserahkan Kalau Tawanan Sudah Dibebaskan

"Apalagi, sejauh ini upaya persuasif juga telah dan terus dilakukan dengan serius," jelas dia.

Khairul berpandangan, Phillip yang sejak awal menerima penugasan dari Susi Air untuk terbang ke Papua juga pasti telah menyadari risiko terhadap keamanan dan keselamatannya.

Di sisi lain, Indonesia punya banyak pengalaman dalam urusan penyanderaan.

Dalam kasus-kasus penyanderaan warga negara Indonesia maupun negara lain oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina Selatan misalnya, tidak semua sandera berhasil dibebaskan.

"Ada sandera yang dieksekusi mati sebelum berhasil dibebaskan, ada juga yang tewas ketika upaya pembebasan dilakukan. Tapi apakah kemudian itu menempatkan Filipina sebagai pihak yang bersalah dan menyebabkan ketegangan dalam hubungan antarnegara? Tentu tidak," kata Khairul.

"Pernyataan Kapuspen TNI dapat dipandang sebagai pesan yang jelas dan tegas pada kelompok bersenjata tersebut bahwa ancaman eksekusi tidak akan efektif untuk menekan pemerintah," imbuh dia.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved