Berita Lembata
Rintihan Mama Sanggar Sinariang Adonara di Tanah Lembata karena Bumi yang Makin Panas
Di hadapan penonton, imaji-imaji dimainkan; kehidupan petani, perjuangan menjala ikan para nelayan dan kenyataan bahwa alam sudah tidak ramah lagi
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Eflin Rote
LAPORAN REPORTER POS-KUPANG.COM, RICKO WAWO
POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA - Tidak ada kegembiraan, tidak ada tawa bahagia. Semuanya penderitaan, semuanya rintihan dukacita. Perempuan-perempuan tua itu bersungut-sungut ketika memulai pementasan teater. Tiga orang mama mengenakan topi pak tani sembari menampi bulir bulir jagung di dalam nyiru segera menyita perhatian.
“Aku haus, aku lapar. Wahai anak manusia di manakah kalian?” suara narator dari belakang panggung seketika menggelegar, seperti mengiringi bunyi bulir-bulir jagung yang ditampi. Penonton dibawa pada suatu situasi yang mencekam dan penuh bahaya. Suara narator mulai berganti melantunkan balada kesedihan dalam bahasa Lamaholot.
Di hadapan penonton, imaji-imaji dimainkan; kehidupan petani, perjuangan menjala ikan para nelayan dan kenyataan bahwa alam sudah tidak ramah lagi untuk siapa saja.
Baca juga: Lembata Buka Sekolah Lapang Kearifan Lokal, Angkat Tema Kedaulatan Pangan Masyarakat
“Pohon tumbang, bakar hutan, hutan terbakar, tanah longsor, banjir bandang. Tapi tikus tikus berdasi bermain main,” kembali suara sang narator bergema sementara tiga orang pelakon sedang meringkuk tak berdaya terperangkap pukat ikan. Lewat adegan itu, penonton sadar Perubahan Iklim itu ulah manusia dan manusia pula yang akan menanggung akibatnya.
Inilah gambaran realitas yang dipentaskan kelompok teater Sanggar Sinariang Adonara dalam acara peringatan Hari Lingkungan Hidup yang diselenggarakan Sekretariat Bersama LSM di depan Kantor Perpustakaan Goris Keraf, Kota Lewoleba, Selasa, 20 Juni 2023.
Sanggar Sinariang yang semua pelakonnya adalah perempuan berusia 40-50-an tahun itu berhasil meneriakkan apa yang selama ini dikhawatirkan para feminis; bahwa perempuan adalah salah satu kelompok yang paling berdampak dari perubahan iklim. Teriakan ini semakin kontekstual di tengah masyarakat Lamaholot yang berciri patriarkat di mana perempuanlah yang bertanggung jawab mengelola pangan dari kebun sampai meja makan.
Baca juga: 10 Pemilih di Lembata Berusia di Atas 100 Tahun
Sebelum tepuk tangan penonton membahana, Sanggar Sinariang sempat menyelipkan harapan di tengah marabahaya perubahan iklim. Harapan itu justru ada pada Muro, kearifan lokal yang ditinggalkan nenek moyang masyarakat Lamaholot.
Muro sendiri secara harafiah berarti pembagian suatu kawasan yang dilakukan secara adat atau penutupan suatu kawasan dengan ritual adat. Muro dilakukan untuk mencegah eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam.
Koordinator Sanggar Sinariang Mama Veronika Ratumakin menulis sendiri naskah teater berjudul ‘Muro’ tersebut. Mama Vero mengaku tertarik dengan pendekatan budaya untuk mengkonservasi suatu kawasan sebagai sumber pangan. Dia melihat ‘Muro’ sebagai salah satu solusi adaptasi terhadap perubahan iklim.
Berbasis budaya Lamaholot, Sanggar Sinariang juga acapkali mementaskan teater yang menyuarakan penyelematan terhadap lingkungan. Dia mengaku teater merupakan media kampanye yang baik untuk menyuarakan masalah-masalah sosial budaya yang ada di tengah masyarakat.
Baca juga: Yayasan Anton Enga Tifaona Serahkan Aset Patung Kepada Pemkab Lembata, Jadi Ikon Kota Lewoleba
“Melalui teater, pesan itu tersampaikan kepada masyarakat. Itu ditandai dengan apresiasi penonton yang luar biasa,” tambahnya.
Ketua Sekretariat Bersama LSM, Benediktus Bedil menyanjung penampilan apik dari Sanggar Seni Sinariang yang berasal dari desa Waiburak, Pulau Adonara, Flores Timur itu. Dia mengaku ‘merinding’ dan terharu menyaksikan pementasan teater mama-mama Sanggar Sinariang.
Andri Atagoran, salah satu penonton, berujar, Sanggar Sinariang mengingatkan bahwa ancaman perubahan iklim sudah nyata. Dengan situasi bumi yang semakin panas, cuaca yang tidak menentu dan ancaman bencana hidrometereologi yang masif, tidak ada lagi hidup yang memancarkan kebahagiaan. Semuanya rintihan, semuanya penderitaan.
“Tidak lama lagi kita akan mati dengan cara tak terhormat di hadapan orang orang terhormat,” sebagaimana pesan politis sang narator.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.