Berita Lembata

Lembata Buka Sekolah Lapang Kearifan Lokal, Angkat Tema Kedaulatan Pangan Masyarakat

Para pemuda ini akan didampingi menjadi Pandu Budaya di Lembata yang bisa menggerakkan pemajuan kebudayaan sesuai dengan undang-undang. 

Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/RICKO WAWO
PESERTA - Para peserta Sekolah Lapang Kearifan Lokal sedang mencatat potensi-potensi budaya yang ada di wilayah mereka. Sekolah Lapang Kearifan Lokal berlangsung di Desa Hoelea II, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata, Kamis, 22 Juni 2023. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricardus Wawo

POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA - Pamong Budaya Ahli Madya Kemendikbudristek  Julianus Limbeng menyadari betul ketergantungan masyarakat pada bahan makanan berbahan dasar gandum, padahal masyarakat lokal sebenarnya sudah punya pangan tersendiri yang gizinya cukup. 

Selain beras, masyarakat juga sudah lama bergantung pada bahan makanan yang berasal dari olahan gandum seperti mie instan dan roti. Ketika negara penghasil gandum seperti Ukraina terlibat perang, masyarakat kemudian bisa kesulitan mendapatkan pangan impor tersebut.

Julianus memaparkan hal ini saat membuka Sekolah Lapang Kearifan Lokal di Desa Hoelea II, Kecamatan Omesuri, Kabupaten Lembata, Kamis, 22 Juni 2023.

Sekolah Lapang Kearifan Lokal yang mengangkat tema kedaulatan pangan masyarakat supaya sumber sumber pangan yang selama ini sudah ada bisa menjadi pangan utama yang dinikmati masyarakat, tidak perlu harus bergantung pada pangan impor.

Baca juga: 10 Pemilih di Lembata Berusia di Atas 100 Tahun

Sekolah Lapang Kearifan Lokal merupakan upaya percepatan pemajuan kebudayaan yang dijalankan secara partisipatif bersama masyarakat adat di Indonesia. 

Sebanyak 21 pemuda yang berasal dari 10 komunitas adat Kedang dan Lamaholot yang ada di Lembata akan tinggal selama 3 hari di rumah warga di desa Hoelea II (live in) supaya mereka bisa menggali kekayaan budaya yang dimiliki masyarakat Lembata.

Para pemuda ini juga akan mendapat materi mengenai kebudayaan di Lembata dari para narasumber lokal dan peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Para pemuda ini akan didampingi menjadi Pandu Budaya di Lembata yang bisa menggerakkan pemajuan kebudayaan sesuai dengan undang-undang. 

Setelah pendampingan selama 3 hari ini, para Pandu Budaya ini juga akan terlibat dalam banyak aktivitas yang berkaitan dengan pemajuan kebudayaan dan menjadi inisiator atau penggerak ekspresi kebudayaan.

“Kampung ini memiliki potensi-potensi dan nilai nilai budaya yang sangat luar biasa yang kita angkat menjadi lebih tinggi sebagai jati diri Indonesia,” ujar Julianus.

“Denyut budaya itu kami rasakan sekali ada di sini. Ada simbol-simbol kebudayaan, atraksi-atraksi budaya yang masih dilestarikan di sini. Semua ini akan kita angkat melalui program perlindungan dan pemberdayaan sumber daya manusia.

Baca juga: Pemkab Lembata Gandeng NGO Gelar Kemah API, Dekatkan Pemuda pada Isu Lingkungan

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Kebudayaan Apolonaris Mayan, mengucapkan terima kasih kepada Kemendikbudristek yang telah menginisiasi Sekolah Lapang Kearifan Lokal di Lembata.

“Tahun ini saya dan teman teman di dinas harus selesaikan dokumen PPKD. Kegiatan ini membantu kami untuk hasilkan PPKD. Saya akan libatkan para Pandu Budaya ini untuk pendataan materi materi kebudayaan untuk dokumen PPKD,” pungkasnya.(*)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved