Berita Timor Tengah Selatan
Kisah Berlian Gadis Timor Tengah selatan yang Pulih dari Asma Karena Ikut Girls Football
Dia juga bersyukur, karena anak-anak perempuannya justru sangat suka dengan olahraga, termasuk sepak bola.
Penulis: Adrianus Dini | Editor: Oby Lewanmeru
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Adrianus Dini
POS-KUPANG.COM, SOE - Sinar matahari pagi menyinari lapangan sepak bola sebuah sekolah di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur.
Di lapangan berumput hijau itu, 16 anak perempuan dan seorang anak laki-laki sedang berlatih sepak bola. Tampak dua orang pelatih dengan sorotan tajam memperhatikan setiap gerakan mereka.
Berlian (13 tahun), satu di antara 17 anak itu sesekali berlari lincah dan menendang, mengoper bola itu ke temannya yang lain. Instruksi-instruksi dari pelatih datang silih berganti. Semua instruksi itu dilaksanakan Berlian secara tepat.
Baca juga: Kendalikan Inflasi, Pemda TTS Gelar HLM TPID dan TP2DD
Senyumnya tampak merekah usai menendang bola. Terlihat keringat mulai membanjiri tubuhnya. Keringat dan senyum itu membuat orang lupa, bahwa remaja 13 tahun ini pernah mengidap sesak napas.
Dari semua peserta Girls Football, Berlian yang paling aktif di setiap kegiatan. Selain di sekolah, ia juga berlatih di rumah. Ia juga mengikuti cabang olahraga lain, yaitu karate.
“Dulu saya sakit sesak napas. Sekarang, dengan mengikuti Girls Football ini, sesak napas saya hilang,” kata Berlian.
Baca juga: Kunjungi Timor Tengah Selatan, Gubernur NTT Telepon Menkes RI Minta Serum Anti Rabies
Sembuh dari sakit asma bukanlah satu-satunya manfaat yang didapat Berlian setelah mengikuti Program Adolescent Healt.
Adolescent Healt merupakan bagian dari Program Stunting Prevention, Adolescent Health, End of Violence Againt Children and Youth (SPACE) dari Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia), yang salah satu aktivitasnya adalah Girls Football atau Sepak Bola Anak Perempuan.
Program ini menyasar anak-anak remaja usia antara 13-24 tahun. Anak remaja yang tergabung alam program ini diberikan kesempatan untuk mengembangkan bakat mereka. Tidak hanya di dunia sepak bola, mereka juga belajar bagaimana mengedukasikan kesehatan remaja, dampak dari perilaku berisiko bagi remaja, kesetaraan gender, hingga public speaking. Semua materi tersebut biasanya mereka dapatkan setelah mereka berlatih sepak bola.
Baca juga: Kisah Zaki Prasong, dari Sepak Bola ke Pencak Silat Hingga Raih Medali Emas SEA Games Kamboja
Hingga 2023, Plan Indonesia telah merealisasikan proyek Girls Football ini di 14 sekolah di Kabupaten TTS. Dari 14 sekolah, Plan Indonesia menyasar 509 anak usia remaja untuk bergabung dalam program ini.
Sekilas, kisah mengenai pesepak bola perempuan memang tidak populer bila dibandingkan dengan pesepak bola laki-laki. Bola kaki dikondisikan seolah-olah jauh dari dunia perempuan, apalagi dunia remaja perempuan.
Namun, stereotipe itu tidak berlaku bagi Berlian. Dia tak ingin terbuai oleh ilusi tentang sepak bola dan kini telah menjadi seorang duta Sepak Bola Anak Perempuan. Ia juga merupakan salah satu pendidik sebaya dampingan Plan Indonesia melalui proyek Girls Football.
Berlian berkisah, banyak manfaat yang diadapatkan setelah masuk dan menjadi Duta Sepak Bola Perempuan di proyek Girls Football. Selain berlatih sepak bola, yang karena itu telah menyembuhkan asmanya, dia juga mendapatkan banyak pelatihan.
“Banyak materi dan pelatihan yang kami dapatkan. Kami belajar tentang kesehatan reproduksi, kesetaraan gender, berbagai perilaku berisiko, seperti perkawinan anak, seks bebas, narkoba, pacaran tidak sehat dan akses internet yang tidak bijak,” jelasnya.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.