Berita NTT

BPS NTT Sampaikan Enam Isu Strategis Pertanian di NTT 

tingkat pendidikan petani relatif rendah berdampak pada rendahnya tingkat adopsi inovasi, luas tanam, luas panen, volume produksi

Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/ASTI DHEMA
SOSIALISASI - Statistisi Madya BPS Provinsi NTT, I Gede Made Suwartana, S.ST,M.Si pada sosialisasi Sensus Pertanian Tahun 2023 (ST2023) bersama wartawan dan petani di Lantai dua gedung BPS NTT pada Selasa,16 Mei 2023. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Asti Dhema

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur (BPS NTT) menyampaikan 6 isu strategi pertanian di NTT pada Selasa, 16 Mei 2023.

Sebelumnya, pada triwulan I-2023 pertumbuhan ekonomi provinsi NTT sebesar 3,73 persen. Sejalan dengan hal ini, 16 Lapangan Usaha (LU) dari 17 LU mencatatkan pertumbuhan yang positif. 

Untuk diketahui pada 2020 seluruh dunia dilanda Covid-19 yang meluluhlantakkan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi nasional terkontraksi sebesar 2 persen dan NTT sebesar 0,84 persen, tetapi sektor pertanian tetap tumbuh pada 2020 sebesar 1 persen dan pada 2021 tumbuh mencapai 4 persen.

"Ini menandakan, sektor pertanian adalah sektor pertanian ini adalah anti pandemi Covid-19 karena pada saat Pandemi bisa tumbuh, di saat sektor lain mengalami pertumbuhan negatif, yang mana pertumbuhan ekonomi kita terjaga di 5 persen dan pada tahun 2020 berkontraksi -2 persen,"ungkap Statistisi Madya BPS Provinsi NTT, I Gede Made Suwartana, S.ST,M.Si pada sosialisasi Sensus Pertanian Tahun 2023 (ST2023) bersama wartawan dan petani di Lantai dua gedung BPS NTT pada Selasa,16 Mei 2023.

Baca juga: NTT Memilih, Mantan Wartawan di Timor Tengah Utara Bertarung dalam Kontestasi Pileg 2024

Dari sisi LU, pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT bersumber dari kinerja LU Utama yakni LU Pertanian namun, ia mengatakan ada beberapa poin penting yang menjadi isu strategis dalam potret petani di NTT.

Pertama, adanya dominasi tenaga kerja di sektor pertanian berusia di atas 55 tahun dan rendahnya minat generasi muda menjadi petani sehingga berdampak pada Penurunan luas tanam, luas panen, volume produksi dan nilai produksi.

Kedua, tingkat pendidikan petani relatif rendah berdampak pada rendahnya tingkat adopsi inovasi, luas tanam, luas panen, volume produksi dan nilai produksi. 

Ketiga, perubahan iklim: Provinsi Nusa Tenggara Timur terletak di wilayah yang rentan terhadap perubahan iklim, seperti peningkatan suhu dan hujan yang tidak menentu.

Perubahan iklim juga dapat berdampak negatif terhadap produksi pertanian, seperti menurunnya produktivitas dan kerusakan tanaman akibat bencana alam.

Baca juga: NTT Memilih, Partai Golkar Sabu Raijua Terget Rebut Kursi Ketua DPRD 

Keempat, pengelolaan lahan pertanian yang tidak berkelanjutan: Beberapa petani di Provinsi Nusa Tenggara Timur masih menggunakan praktik pertanian yang tidak berkelanjutan, seperti penggunaan pestisida yang berlebihan dan pengolahan tanah yang tidak tepat.

Hal ini dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan dan kesehatan, serta menurunkan produktivitas pertanian dalam jangka panjang.

Kelima, rendahnya produktivitas lahan pertanian akibat kurangnya akses petani terhadap teknologi pertanian modern sehingga berdampak pada berkurangnya produksi dan nilai produksi, kesejahteraan petani.

Keenam, keterbatasan infrastruktur: Keterbatasan infrastruktur di Provinsi Nusa Tenggara Timur, terutama infrastruktur jalan dan transportasi berdampak pada terhambatnya penditribusi benih dan pupuk serta pemasaran hasil pertanian.

Hal ini dapat mengakibatkan harga yang tidak stabil dan tidak sebanding dengan biaya produksi petani.(dhe)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved