Opini
Opini Ansel Deri: Vivick dan Polisi Berparas Humanis
AKBP Dr Josephien Vivick Tjangkung, S.Sos, MI.Kom sebagai Kapolres Lembata, Kepolisian Daerah (Polda) Nusa Tenggara Timur (NTT)
Fungsi ideal dimaksud yaitu memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan masyarakat.
Selain itu, Polri juga dituntut bersikap tegas dan berwibawa selama menunaikan tugasnya.
Kedua, Kapolres Vivick dan jajarannya diharapkan juga terus menampakkan wajah Polri berparas humanis di tengah masyarakat ala Kapolri Sigit Prabowo. Mulai dari Tanjung Naga di selatan hingga Tanjung Leur di ujung timur Lembata, nusa nan eksotik yang terkenal dengan leva, perburuan paus secara tradisional di Lamalera.
Hal tersebut perlu dalam upaya mewujudkan transformasi menuju Polri yang Presisi yang prediktif, responsibel, dan transparansi serta berkeadilan melalui berbagai program prioritas.
Sekaligus sejalan dengan program Kapolri menata kelembagaan, perubahan sistem dan metode organisasi menjadi SDM Polri yang unggul di era police 4.0, perubahan teknologi kepolisian modern, peningkatan kinerja pemelihara kamtibmas, peningkatan kinerja penegakan hukum, pemantapan dukungan penanganan Covid-19, dan pemulihan ekonomi nasional.
Ketiga, tugas Vivick bersama jajarannya juga tak sekadar membawa wajah polisi di levo Lembata yang berparas humanis.
Ada tugas penting lain menghadang. Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang sudah menjadi persoalan serius setiap berganti Kapolres. Pun penanganan kasus-kasus seperti korupsi, kematian tak wajar, human trafficing, peredaran narkoba, kekerasan terhadap perempuan atau anak di bawah umur, dan lain-lain.
Baca juga: Opini Don Kabelen: Hosana, Salibkanlah Dia!
Dalam Tinjauan Kritis Reformasi Kultural Polri 1999-1912 (2015) Sarah Nuraini Siregar, dkk menyebut, kurun waktu 14 tahun terakhir (kurun waktu penelitian), Polri telah berusaha memenuhi tuntutan gerakan reformasi meski belum berhasil seluruhnya.
Khusus reformasi kultural, menurut klaim Polri, sudah ada upaya Polri seperti perubahan doktrin, perumusan pedoman tata perilaku anggota Polri, dan sebagainya. Siregar, dkk menyebut, dalam perkembangan, aspek kultural sebagai muara reformasi, Polri tampak belum berhasil menjadi ‘polisi sipil’ yang berwajah humanis serta demokratis.
Padahal peran Polri sebagai penegak hukum dan fungsinya yang beririsan dengan masyarakat melekat satu dengan yang lainnya. Vivick diharapkan memainkan peran maksimal di Lembata sebagai medan penugasan baru.
Vivick dan jajarannya mesti memainkan peran dan fungsi polisi pelindung, pengayom, pelayan, dan penegakan hukum di tengah masyarakat. Peran Vivick mesti menukik lebih dalam, menyentuh hati masyarakat Lembata. Bahwa tugas menjaga kamtibmas agar selalu kondusif bukan sekadar tanggungjawab polisi.
Tugas itu mesti bergerak dalam satu irama dan niat baik ribu ratu dan semua stakeholder menuju polisi berparas humanis. Kalau itu jadi niat polisi, —meminjam frasa bahasa Manggarai— gereng apa kole? Tunggu apa lagi? Selamat datang Kapolres Lembata, Ibu Vivick Tjangkung. Terima kasih atas pengabdianmu selama ini di Polres Lembata, Pak Dwi Handono! (Penulis adalah mantan Staf Anggota DPR Irjen Pol (Purn) Jacki Uly)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.