Opini

Opini Don Kabelen: Hosana, Salibkanlah Dia!

Tampilnya seorang pemimpin siapapun dia tetap menghadirkan dikotomi. Dikotomi antara kelompok pendukung dan penentang.

Editor: Alfons Nedabang
WIKIPEDIA
Para algoju membawa Yesus menghadap Pontius Pilatus sebelum disalibkan. Staf STAKN Keuskupan Agung Kupang Don Kabelen menulis opini: Hosana...Salibkanlah Dia. 

POS-KUPANG.COM - Tampilnya seorang pemimpin siapapun dia tetap menghadirkan dikotomi. Dikotomi antara kelompok pendukung dan penentang.

Kelompok pendukung mempertahankan pemimpinnya dan kelompok penentang bertindak sebaliknya, berusaha menggagalkan didasari alasan tertentu. Karakteristik kelompok demikian bukan hal baru di muka bumi ini, melainkan warisan leluhur.

Kitab Suci menampilkan warna dasar yang sama tentang hal di atas. Hal itu tercermin ketika Yesus tampil pada zamannya. Bagi para pendukung, reformasi yang dilakukan Yesus lewat karya-karyaNya sepantasnya disyukuri, didukung dan dipertahankan.

Sehingga tatkala Dia dengan segala kebesaran memasuki kota Yerusalem terdengar sorak-sorai pujian membahana.

Tanpa sungkan orang membentangkan pakaian di jalan dan menyerukan.: “Hosana bagi anak Daud, terberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan. Hosana di tempat yang maha tinggi”.Seruan itu untuk Yesus pemimpin baru.

Kehadiran pemimpin baru pada konteks di atas adalah sebuah soal. Persoalan menjadi besar bila terjadi pembiaran.

Baca juga: Opini Isidorus Lilijawa: Pro Kontra Rombengan

Pembiaran ini memungkinkan pemimpin lama yang segera kehilangan kekuasaan, mencari cara melanggengkan kekuasaannya dan kepentingannya dan melakukan provokasi negative untuk menjatuhkan pemimpin yang baru.

Tidak hanya itu. Rekayasa dibangun sedemikian rupa untuk sampai kepada keputusan: bersalah dan karena itu harus disalibkan.

Pemimpin lama dengan kroni-kroninya berjuang terus membentuk opini publik. Perjuangan membuahkan hasil. Euforia sukacita pada pemimpin baru lenyap seketika.

Di meja pengadilan rakyat bukan lagi mengagung-agungkan kedatangan Tokoh Pembaharu dunia ini malah sebaliknya seperti orang kerasukan mereka lantang berteriak: “Salibkanlah Dia”.

Hukum salib dan kematian Yesus menjadi kedukaan bagi orang-orang yang mencintaiNya, mengagumi diri-Nya, pikiranNya, karya-Nya. Dapat dimengerti, bersama kematianNya mati pula pembaharuan yang diidam-idamkan.

Sementara bagi kaum oposisi, kematian Yesus merupakan kemenangan besar sebab tidak ada lagi gangguan yang datang. Kematian Yesus melapangkan jalan hidup orang-orang yang sedang haus kekuasaan.

Kematian Yesus juga menjadi sebuah pesan bagi orang yang suka mengutak-atik kekuasaan bahwa nasibnya pun tidak akan lebih baik dari yang dialami Yesus.

Artinya, tidak ada ampun bagi siapa saja yang coba-coba mengganggu tatanan yang sudah dibangun. Nasibnya akan sama, yang membedakan cuma soal waktu.

Baca juga: Opini Yohanes Bura Luli: Menjaga Marwah Politik Pemilu

Mengkilas balik ziarah kepemimpinan pemimpin bangsa ini dari orde ke orde, langgam kepemimpinan mereka sama saja. Bila digeneralisir dalam tataran salib para pemimpin negara ini memiliki nada dasar yang sama.

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved