Rabu, 27 Mei 2026

Seminar Pendidikan Pemimpin Harus Punya Moral dan Etika untuk Indonesia Emas 2045

Kemajuan pendidikan sebuah negara ditentukan dari Pemimpin yang memiliki kemampuan kepemimpinan transformasional dengan berlandaskan moral dan etika

Tayang: | Diperbarui:
POS KUPANG/IRFAN HOI
SEMINAR NASIONAL - Seminar Pendidikan nasional bertajuk Konstruksi Kualitas Pendidikan NTT menuju Indonesia Emas 2045, di Aula GMIT Center, Sabtu (18/3). 

 

Ir. Karolus Karni Lando : Kompetensi Internasional

Direktur Asia Pasifik Rina, Ir. Karolus KarniLando dalam materinya Capacity Building, System Persekolahan dan Ekosistem Pendidikan, mengatakan, korupsi yang melanda Indonesia menjadi salah pemicu negara ini lambat bergerak maju. Menurut dia, masalah itu tantangan bagi semua pihak, yang tentu berimplikasi pada sektor pendidikan juga.

Negara luar, banyak menempatkan aspek pendidikan menjadi peringkat paling atas untuk membawa perubahan atau perbaikan pembangunan manusia. Dari sektor pendidikan, menurutnya guru dan tenaga pendidik menjadi orang yang paling bertanggungjawab. Untuk membawa kasus korupsi itu bisa turun, maka penekanannya ada di sektor pendidikan.

Ir. Karolus Karni Lando, MBA, Direktur Asia Pasifik RINA
Ir. Karolus Karni Lando, MBA, Direktur Asia Pasifik RINA (PK/VEL)

Guru ataupun tenaga pendidik harus dibekali lebih kuat. Namun, kompetensi bagi guru maupun tenaga pendidik harus didorong ke arah lebih baik. Terapi, sisi lain, sarana dan prasarana di sekolah yang tidak menunjang ikut menjadi pemicu lambatnya pembangunan manusia.

Ada juga terkait keuangan. Baginya anggaran yang besar harus diarahkan ke sektor pendidikan. "Kurikulum yang dikeluarkan sangat umum kemudian digeneralisasi ke semua provinsi. Mestinya ada kurikulum yang mengandung budaya, karakter NTT," saran Karolus.

Karolus menyebut ada tiga faktor penting pengembangan kapasitas manajemen sekolah dan konsisten pendidikan. Pertama, individual kapasitas yang merupakan kemampuan seseorang untuk mengerjakan sesuatu yang wujudkan melalui tindakannya, untuk meningkatkan produktivitas kerja dan diperoleh dari pendidikan formal.

Kedua, organisatiol kapasitas, kemampuan pimpinan untuk menyusun, menggabungkan, memimpin dan mengendalikan manusia, sumber daya sekolah, fisik dan informasi. Kapasitas tersebut harus dimiliki oleh seorang pemimpin. "Pemimpin bukan saja seorang yang ada atau memiliki jabatan struktural, tetapi dimulai dari guru ataupun tenaga pendidik," katanya.

Ketiga, leadership kapasitas, merupakan kemampuan seorang pemimpin dalam mengelola organisasi dan sumber daya yang dimiliki. "Menjadi bos harus disiplin, harus mengerti apa yang diharapkan. Kalau sekolah itu bagus, pertama leadership," sebutnya.

Baginya, sehebat-hebatnya sekolah perlu ada kerja sama dengan pihak lain term Pemerintah dan orang tua siswa. Sebab itu, pendidikan perlu melibatkan semua pihak dalam pelaksanaan. Untuk itu, NTT jika ingin sekolahnya maju maka proses perencanaan harus dibuat bagus. Ia optimis jika poin tersebut bisa dijalankan maka sekolah di NTT bisa bergerak lebih baik.

"Para guru dan pendidik meningkatkan kompetensi, sekolah juga harus menerapkan manajemen sistem, dan leadership khususnya kepala sekolah atau rektor menjadi contoh dan teladan," ujarnya.

Para guru harus terus belajar dan berbagi ilmu dengan guru di sekolah lain bahkan diluar negeri agar punya kompetensi setara internasional. Dia melihat orang NTT memiliki kemampuan yang luar biasa. Jika potensi ini didukung oleh pemerintah maka bukan tidak mungkin pendidikan bisa lebih baik ke depan.

Dr. Frederik A. Kande dalam materi tantangan implementasi standar nasional pendidikan dan manajemen sekolah unggul di NTT, menilai agenda Pemerintah NTT untuk mendorong peningkatan mutu pendidikan sekaligus mendorong sekolah agar bisa masuk ke rangking 1.000 terbaik secara nasional, terlalu cepat.

"Cara yang digunakan terlalu instan. Kalau kita mau disiapkan siswa dengan baik, maka kita siapkan dari kelas 1. Jadi paling cepat itu tiga tahun, untuk masuk menjadi 1.000 besar. Kalau satu tahun saya kira tidak cukup, paling hanya kejar jam tayang," jelasnya dalam seminar nasional yang diselenggarakan PIKI NTT.

Menurut dia, standar nasional maupun sekolah unggul sangat berkaitan dengan mutu pendidikan itu sendiri. Guru harus disiapkan dengan baik agar bisa menerapkan 8 standar pendidikan. "Kasus yang menimpa birokasi pendidikan kita juga cukup banyak. Kepala sekolah kita juga banyak yang tidak berkutik karena terpasung dalam kekuasaan kerajaan kecil di birokrasi," ujar dia.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved