Cerpen
Karei Ata
Anak sebangsa raja kalau tidak pesta, maka siap-siaplah disebut manusia yang tidak berguna. Sebab itu, pesta menjadi wajib dilaksanakan
Setelah dua tahun beroperasi hasilnya kelihatan, salah satunya: Umbu tidak alpa pesta. Tetapi masuk tahun yang ketiga, sialnya beruntun datang.
Istri ketangkapan dengan selingkuhannya, anak pertama yang sedang kuliah ketangkapan pengguna narkoba, dan Umbu sendiri dapat panggilan polisi atas dasar keterangan pelaku, bahwa dia otaknya.
Keluarga besar meledak marah dengan adanya kasus hukum yang bikin malu turunan. Kalau pelakunya anak rakyat jelata, ya orang bilang biasa. Tetapi Umbu turunan langsung raja, taruh di mana muka?
Mama Umbu tidak keluar dari kamar berhari-hari. Malu tiada dua. Menyesal melahirkan anak yang hidupnya tidak beraturan. Hidupnya tidak bernilai, percuma, dan sia-sia lahir sebagai manusia.
Jikalau tahu ia karei ata, bagusnya tidak boleh lahir. Kakeknya raja, bapaknya kepala dinas, datang Umbu hidupnya lebih keji daripada orang yang selama ini tidak dianggap.
Tambolaka, 1 Desember 2022
Keterangan:
1. Karei ata: percuma lahir jadi manusia, hidup tidak bermakna, manusia sisa
2. Meli taka bawe benu dana: tenggelam dalam laut, melarat seumur hidup

Aster Bili Bora, sastrawan tinggal di Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT. Email: asteriusbilibora@gmail.com Antologi cerpennya: Bukan sebuah jawaban (1988), Matahari jatuh (1990), Bilang saja saya sudah mati ( 2022), dan yang akan menyusul terbit: antologi cerpen Laki yang terbuang, dan antologi Lahore. Karya novel yang sedang disiapkan: Laki yang kesekian-sekian. Antologi bersama pengarang lain: Seruling perdamaian dari bumi flobamora tahun 2018 , Tanah Langit NTT tahun 2021, Gairah Literasi Negeriku tahun 2021, Guru berkesan tak lekang dari ingatan tahun 2022
Ikuti berita Pos-kupang.com di GOOGLE NEWS