Cerpen

Karei Ata

Anak sebangsa raja kalau tidak pesta, maka siap-siaplah disebut manusia yang tidak berguna. Sebab itu, pesta menjadi wajib dilaksanakan

Editor: Agustinus Sape
Tribunnews.com
Ilustrasi 

Umbu yakin dan percaya diri bahwa dengan modal uang dan bermodalkan cucu raja, ia menang telak dengan perolehan suara tertinggi.

Di tempat kampanye, Umbu berpesan agar rakyat memilih pemimpin yang mikirin rakyat. Tandanya pemimpin yang mikirin rakyat: dahi mengkerut dan rambut putih. Lihat rambut saya ini sudah pada putih walaupun masih muda, katanya.

Modal 10 miliar ludes jatuh di tangan rakyat. Supaya jangan disebut melanggar hukum, maka formulasi kalimat direkayasa sebagai biaya operasional tim sukses. Karena kalau bilang beli suara, maka penjara namanya.

Ketika perhitungan suara, benarkah suara Umbu yang tertinggi?Ternyata nol kaboak. Umbu berada pada urutan terakhir dalam partainya dengan total 20.000 suara.

Matius yang bukan cucu raja dan tidak ada modal uang, justru dialah yang tertinggi meroket 70.000 suara. Mengejutkan, dan bahasa paling pantas untuk bersembunyi, Matius pakai tuyul.

Gagalnya Umbu jadi dewan tidak masuk akal, setidaknya menurut penilaian Umbu sendiri. Mestinya uang 10 miliar sudah sangat menjamin Umbu melenggang ke Senayan. Aneh tapi nyata.

Setelah ditelusuri, ternyata pemilih tidak memilih Umbu sebagai wujud balas dendam terhadap raja yang semena-mena terhadap rakyat dan ayah Umbu yang korupsi dana Bansos sewaktu kadis sosial.

Isu demikian diterjemahkan Umbu secara lurus sebagai suatu kebenaran. Dua hari setelah pleno KPU Provinsi, ia menampakkan kebencian pada ayah dengan gaya cari masalah.

“Bapak, ada orang yang tawar tanah sebelah kali. Setuju harga 2 miliar.”

“Belum cukup uang 10 miliar?”

“Mau gugat di MK. Tidak masuk akal, Matius yang tidak ada isi pantat, justru suaranya di atas langit.”

“Rakyat yang memilih, bukan uang. Lebih baik stop, dan terima kanyataan.”

“Bapak jangan begitu! Itu namanya tidak mendukung.”

“Ya, bagaimana bilang tidak mendukung? Tanah 10 hektar dan harta lain sudah habis.”

“Secara moral jelas-jelas bapak tidak mendukung.”

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved