Cerpen

Karei Ata

Anak sebangsa raja kalau tidak pesta, maka siap-siaplah disebut manusia yang tidak berguna. Sebab itu, pesta menjadi wajib dilaksanakan

Editor: Agustinus Sape
Tribunnews.com
Ilustrasi 

Cerpen: Aster Bili Bora

POS-KUPANG.COM - Waktu muda kenikmatan dirasa. Tidak ada kurangnya. Bir berapa keler dan peci berapa jerigen, bukan masalah. Mau makan enak di mana juga tinggal pilih.

Setelah berumah tangga makin terasa dunia ini bukan milik siapa-siapa. Nama besar keluarga wajib dipertahankan dengan minum, makan enak, dan pesta.

Anak sebangsa raja kalau tidak pesta, maka siap-siaplah disebut manusia yang tidak berguna. Sebab itu, pesta menjadi bagian budaya yang wajib dilaksanakan.

Umbu sekolahnya lumayan tinggi. Setelah tamat Magister pertanian, ia pulang ke daerahnya lalu mengadu nasib jadi pegawai. Ia lamar ke sana kemari dan pernah ikut tes beberapa kali. Namun tetap saja gagal.

Mau bilang apa. Garis tangan mudah-mudahan di tempat lain, asalkan sekelas pegawai kantor. Maka ia lamar di perusahaan tebu dengan harapan jadi manager. Setelah menunggu satu tahun juga tidak ada kabar berita.

Ayahnya pensiunan PNS. Memiliki lahan yang sangat luas. Selain tanah warisan almarhum raja, ayah Umbu beli lagi beberapa bidang sewaktu masih aktif kepala dinas.

Dengan gagalnya Umbu sebagai pegawai, ayah Umbu berharap agar Umbu bertani saja. Apa lagi dengan disiplin ilmu pertanian, diyakini Umbu akan jauh lebih tinggi penghasilannya ketimbang PNS.

Harapan ayah Umbu ternyata sia-sia. Umbu memang output pertanian, namun hobinya politik, bukan pertanian. Kalau hanya bertani, bikin apa harus Magister, katanya.

Karena sedikit malu bertengkar dengan anak gara-gara perbedaan pandangan, maka ayah Umbu bergaya lugu walau hati sakit. Ia setuju Umbu maju calon DPR RI.

Anak dasar sudah siap. Kelompok minum peci dan sesama pemuda gelandangan akan jadi tim pemenangan. Jumlahnya lumayan, hanya saja penyebarannya masih terfokus dalam satu wilayah.

Bagaimana kantong suara di wilayah lain? Mudah diakali, menurut Umbu. Masyarakat saat ini masih sangat hormat akan status raja dan keturunannya.

Kalau tim sukses sudah menyampaikan bahwa Umbu adalah cucu raja dan anak mantan kepala dinas, maka publik tutup mata untuk yang lain.

Selain mengandalkan pengaruh raja dan mantan kadis, juga masih ada pendekatan lain yang sangat jitu dan meyakinkan. Rakyat sekarang rata-rata butuh makan. Diikat dengan uang, maka otomatis pilih Umbu.

Supaya ada modal untuk wujudkan politik uang, maka Umbu menjual 20 hektar lahan strategis dengan harga murah 10 miliar rupiah. Tentu saja atas persetujuan ayahanda.

Umbu yakin dan percaya diri bahwa dengan modal uang dan bermodalkan cucu raja, ia menang telak dengan perolehan suara tertinggi.

Di tempat kampanye, Umbu berpesan agar rakyat memilih pemimpin yang mikirin rakyat. Tandanya pemimpin yang mikirin rakyat: dahi mengkerut dan rambut putih. Lihat rambut saya ini sudah pada putih walaupun masih muda, katanya.

Modal 10 miliar ludes jatuh di tangan rakyat. Supaya jangan disebut melanggar hukum, maka formulasi kalimat direkayasa sebagai biaya operasional tim sukses. Karena kalau bilang beli suara, maka penjara namanya.

Ketika perhitungan suara, benarkah suara Umbu yang tertinggi?Ternyata nol kaboak. Umbu berada pada urutan terakhir dalam partainya dengan total 20.000 suara.

Matius yang bukan cucu raja dan tidak ada modal uang, justru dialah yang tertinggi meroket 70.000 suara. Mengejutkan, dan bahasa paling pantas untuk bersembunyi, Matius pakai tuyul.

Gagalnya Umbu jadi dewan tidak masuk akal, setidaknya menurut penilaian Umbu sendiri. Mestinya uang 10 miliar sudah sangat menjamin Umbu melenggang ke Senayan. Aneh tapi nyata.

Setelah ditelusuri, ternyata pemilih tidak memilih Umbu sebagai wujud balas dendam terhadap raja yang semena-mena terhadap rakyat dan ayah Umbu yang korupsi dana Bansos sewaktu kadis sosial.

Isu demikian diterjemahkan Umbu secara lurus sebagai suatu kebenaran. Dua hari setelah pleno KPU Provinsi, ia menampakkan kebencian pada ayah dengan gaya cari masalah.

“Bapak, ada orang yang tawar tanah sebelah kali. Setuju harga 2 miliar.”

“Belum cukup uang 10 miliar?”

“Mau gugat di MK. Tidak masuk akal, Matius yang tidak ada isi pantat, justru suaranya di atas langit.”

“Rakyat yang memilih, bukan uang. Lebih baik stop, dan terima kanyataan.”

“Bapak jangan begitu! Itu namanya tidak mendukung.”

“Ya, bagaimana bilang tidak mendukung? Tanah 10 hektar dan harta lain sudah habis.”

“Secara moral jelas-jelas bapak tidak mendukung.”

“Bukti?”

“Kabarnya Bapak korupsi dana bansos.”

“Aduh, Tuhan Allah! Bukan orang jauh yang fitnah, namun anak kandung sendiri.”

Ayah Umbu terjatuh dari kursi dan mulutnya miring. Ia strok berat dan akhirnya meninggal setelah opname 6 bulan.

Setelah ayah tiada, Umbu menghabiskan harta yang masih ada dengan minum peci, judi online, main perempuan, dan pesta. Setiap tahun pada tanggal dan bulan meninggal ayahnya, ia wajib pesta dengan bantai ternak puluhan.

Mengikuti pesta dari tahun ke tahun dengan biaya yang tidak main-main, maka Ringko, adik dari ayahnya, menyarankan supaya stop. Tetapi apa kata Umbu?

“Biar harta habis bukan masalah. Saya tetap pesta hapus dosa.”

“Dosa apa memang?”

“Ayah mati gara-gara saya. Karena itu saya harus pesta untuk memberi makan leluhur dan juga sebagai wujud penyesalan serta mohon ampun pada ayah, almarhum.”

Pesta yang tidak berujung dari tahun ke tahun melahirkan banyak masalah. Harta habis dan kebutuhan makan minum sudah tidak benar. Hidup enak di masa kecil, hidup sengsara ketika dewasa.

“Meli taka bawe benu dana.”

Tidak hanya mimpi makan enak, tetapi istri yang merasa tidak mampu dinafkahi punya selingkuhan yang menambah nafkah.

Semua persoalan berkomplikasi dalam batin Umbu. Judi online hanya untung sekali tetapi rugi berkali-kali. Jalan apa yang ditempuh agar tahun depan bisa pesta? Kegiatan apa pula yang bisa stabil datangkan peci?

Semua jalan sudah tertutup, kecuali mencuri atau rampok. Maka dua pencuri kawakan yang belum ketangkapan bertahun-tahun makin berani beraksi atas backingan Umbu.

Pencuri tambah berani mencuri karena otaknya bukan orang sembarang. Status ok dan pendidikan lebih ok lagi. Gelar magister mau siapa yang lawan?

Setelah dua tahun beroperasi hasilnya kelihatan, salah satunya: Umbu tidak alpa pesta. Tetapi masuk tahun yang ketiga, sialnya beruntun datang.

Istri ketangkapan dengan selingkuhannya, anak pertama yang sedang kuliah ketangkapan pengguna narkoba, dan Umbu sendiri dapat panggilan polisi atas dasar keterangan pelaku, bahwa dia otaknya.

Keluarga besar meledak marah dengan adanya kasus hukum yang bikin malu turunan. Kalau pelakunya anak rakyat jelata, ya orang bilang biasa. Tetapi Umbu turunan langsung raja, taruh di mana muka?

Mama Umbu tidak keluar dari kamar berhari-hari. Malu tiada dua. Menyesal melahirkan anak yang hidupnya tidak beraturan. Hidupnya tidak bernilai, percuma, dan sia-sia lahir sebagai manusia.

Jikalau tahu ia karei ata, bagusnya tidak boleh lahir. Kakeknya raja, bapaknya kepala dinas, datang Umbu hidupnya lebih keji daripada orang yang selama ini tidak dianggap.

Tambolaka, 1 Desember 2022

Keterangan:

1. Karei ata: percuma lahir jadi manusia, hidup tidak bermakna, manusia sisa

2. Meli taka bawe benu dana: tenggelam dalam laut, melarat seumur hidup

Aster Bili Bora
Aster Bili Bora (Foto Pribadi)

Aster Bili Bora, sastrawan tinggal di Tambolaka, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT. Email: asteriusbilibora@gmail.com Antologi cerpennya: Bukan sebuah jawaban (1988), Matahari jatuh (1990), Bilang saja saya sudah mati ( 2022), dan yang akan menyusul terbit: antologi cerpen Laki yang terbuang, dan antologi Lahore. Karya novel yang sedang disiapkan: Laki yang kesekian-sekian. Antologi bersama pengarang lain: Seruling perdamaian dari bumi flobamora tahun 2018 , Tanah Langit NTT tahun 2021, Gairah Literasi Negeriku tahun 2021, Guru berkesan tak lekang dari ingatan tahun 2022

Ikuti berita Pos-kupang.com di GOOGLE NEWS

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved