Opini

Opini: Dirgahayu Pos Kupang

Hari ini, Surat Kabar Harian Pos Kupang menandai hari spesial dalam angka 30. Bila dilihat secara sepintas, 30 tahun adalah waktu yang teramat cepat.

Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/YENNI TOHARI
Pada Kamis 1 Desember 2022, Pos Kupang genap berusia 30 tahun. Pimpinan dan karyawan Pos Kupang merayakan dengan ibadat dan pemotongan tumpeng. 

Oleh: Jose Nelson M Vidigal

( Tinggal di Ruteng )

POS-KUPANG.COM - Hari spesial itu ditentukan manusia untuk menandai sebuah peristiwa penting, seperti hari lahir seorang manusia atau hari lahir sebuah institusi/perusahaan.

Hari ini, Surat Kabar Harian Pos Kupang (PK) menandai hari spesial dalam angka 30. Bila dilihat secara sepintas, 30 tahun adalah waktu yang teramat cepat. Namun, bila dimaknai, 30 tahun merupakan waktu yang teramat jauh untuk sekali tempuh, dan teramat sukar untuk sekali jalan.

Bagi sebuah perusahaan media seperti Pos Kupang, memasuki usia ke-30 tahun tergolong dalam usia dewasa. Namun, hal terpenting dari setiap peralihan usia ialah mengakui intervensi Tuhan yang hadir dalam diri para pioner dan kontributor media ini.

Kita ingat nama-nama seperti Damyan Godho, Valens Goa Doy, dan Rudolf Nggai yang menjadi fundator berdirinya Pos Kupang. Kendati ketiganya sudah berpulang menghadap Sang Khalik kehidupan, namun jasa mereka tetap dikenang.

Peralihan usia yang sarat makna, bukan soal angka 30 yang tersedia begitu saja, tetapi terlebih pada sepak terjang media ini sejak berdirinya hingga saat ini. Tentu banyak tantangan yang dihadapi. Tantangan awal yang terasa berat ialah mengupayakan provinsi kepulauan ini mengakses informasi dari surat kabar ini dalam waktu yang bersamaan.

Salah satu cara yang ditempuh waktu itu ialah melakukan percetakan jarak jauh pada PT. Arnoldus Nusa Indah (PT.ANI) di Ende untuk melayani wilayah Flores dan Lembata.

Baca juga: Opini : Makna Sopi Dalam Budaya NTT

Selain itu, pada masa krisis moneter tahun 1997 yang mengakibatkan harga material cetak yang melambung tinggi membuat perjalanan media ini sempoyongan. Tetapi toh, media ini terus maju dan maju terus hingga menggapai prestasi perdananya pada tahun 2006 sebagai salah satu dari 10 koran terbaik nasional versi Dewan Pers.

Bagi media yang kuat dan tangguh, menghadapi situasi sulit seperti itu, memaksa media ini untuk terus berinovasi dan beradaptasi hingga menemukan solusinya sendiri.

Setiap prestasi yang diraih oleh media ini tentu dirajut dari berbagai kritikan yang konstruktif dari para kontributor kolom ini. Bahwasannya, media ini hadir untuk mewakili rakyat, menjadi ‘oposisi’ dan pengawas program pemerintah, sekaligus menjadi bagian dari pengembangan sumber daya manusia pada umumnya dan masyarakat NTT pada khususnya.

Tantangan terbaru ialah hadirnya media-media daring (online) yang diprediksi akan menggeser eksistensi media cetak. Dampaknya pun dapat terasa melalui penutupan salah satu percetakan Pos Kupang di Ruteng, menurunnya oplah dan keterlambatan kehadiran surat kabar harian ini di beberapa kabupaten di NTT.

Bagi saya, menutup sebuah percetakan adalah sebuah langkah mundur, saat di era kemudahan pelayanan (on demand). Ketika konsumen menginginkan untuk membaca berita di pagi hari, koran baru muncul di sore hari atau bahkan hari berikutnya.

Kehadiran media daring tentu mengubah peradaban manusia dari time series menjadi real time. Berita detik ini langsung terolah dalam big data dan secara cepat dapat disimpulkan dan ditindaklanjuti oleh pembaca.

Baca juga: Opini : Tantangan Profesionalisme Guru (dan PGRI)

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved