Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Minggu 16 Oktober 2022, Berkanjang dalam Doa
Renungan Harian Katolik berikut disiapkan oleh RP. John Lewar SVD dengan judul Berkanjang dalam Doa.
POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik berikut disiapkan oleh RP. John Lewar SVD dengan judul Berkanjang dalam Doa.
RP. John Lewar menulis Renungan Harian Katolik ini dengan merujuk pada Kitab Keluaran 17:8-13, 2Timotius 3:14-4:2, dan bacaan Injil Lukas 18:1-8, Minggu Biasa XXIX.
Di akhir Renungan Harian Katolik ini disediakan pula teks lengka bacaan Minggu 16 Oktober 2022 beserta mazmur tanggapan dan bait pengantar Injil.
Saudari-saudaraku yang terkasih dalam Kristus.
SABDA TUHAN pada hari minggu ini bebicara tentang perlunya berkanjang dalam doa, atau pentingnya berdoa secara tetap dan terus-menerus, doa dengan tidak jemu-jemunya.
Tapi menerapkan ajakan Tuhan ini dalam kenyataan hidup bukan hal yang mudah.
Khususnya ketika pengalaman-pengalaman ketidak adilan menimpah diri kita, orang-orang yang kita kasihi atau yang terjadi di depan mata kita.
Kita terus berdoa memohonkan perdamaian namun terkesan Tuhan seakan-akan membiarkan perang dan konflik terus terjadi.
Kita berdoa memohonkan kesehatan namun terkesan Tuhan seakan-akan membiarkan jumlah penyakit terus bertambah.
Kita juga tak jemu-jemunya mendoakan kemakmuran dan kesejahteraan hidup sementara jumlah orang miskin terus meningkat.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 15 Oktober 2022, Menghujat Roh Kudus
Di hadapan situasi yang tampak seakan bertentangan dengan doa-doa kita ini, bisa saja kita merasa putus asa, menjadi marah, dan bahkan memberontak dan mempersalahkan Tuhan.
Kita bisa saja kehilangan iman dan pengharapan di dalam Tuhan.
Pertanyaan yang tepat untuk kita di sini ialah bagaimana tetap mencintai doa meskipun dalam situasi-situasi sukar hidup kita?
Terus memupuk, mempertahankan dan menumbuhkan semangat, gairah dan rasa cinta akan doa dalam situasi sukar adalah inti Sabda Tuhan hari ini.
Santo Lukas, yang perikopnya diperdengarkan oleh Gereja hari ini, menulis Injilnya pada akhir abad pertama dan mengalamatkannya kepada komunitaskomunitasnya di Asia kecil.