Breaking News:

Berita NTT

Program Sumba Future Changemakers, Save the Children Dukung Anak Muda Sumba Berinovasi

Save the Children menginisiasi Program Sponsorship (termasuk program Sumba Future Changemakers )  di Sumba Barat sejak tahun 2014.

Penulis: Paul Burin | Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/ISTIMEWA
INOVASI - Program Sumba Future Changemakers, Save the Children Dukung Anak Muda Sumba Berinovasi 

POS-KUPANG.COM, WAIKABUBAK - Tiga orang peserta SFC ( Sumba Future Changemakers ) membuat prototipe ide perubahan untuk menyelesaikan permasalahan sampah plastik di Pasar Lama, Waikabubak, Ibukota Kabupaten Sumba Barat, beberapa waktu lalu.

​Untuk diketahui, Save the Children menginisiasi Program Sponsorship (termasuk program Sumba Future Changemakers )  di Sumba Barat sejak tahun 2014 dan akan berlangsung hingga tahun 2024. Misi program yang didanai sponsor adalah untuk memenuhi hak anak atas kesehatan dan kesejahteraan serta memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk bertahan hidup, belajar, dan dilindungi.

Program ini (termasuk program Sumba Future Changemakers ) bertujuan untuk menjangkau 100.000 anak dan komunitas terkait anak dengan durasi program selama 10 tahun dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan pelayanan kesehatan anak-anak di kabupaten itu dan Sumba Tengah.

Baca juga: Save the Children Hadirkan Pelajar di Sumba Tengah Mengikuti Lomba Pidato dan Infografis

Program sponsorship memiliki lima program utama, yaitu Program Kesehatan Ibu dan Anak, Program PAUD, Program Pendidikan Dasar, Program Kesehatan dan Nutrisi Anak Sekolah, dan Program Pengembangan Remaja.
​Sementara melalui program Sumba Future Changemakers (SFC), Save the Children mendukung anak-anak berusia 13 - 17 tahun asal Pulau Sumba berinovasi dan menciptakan proyek perubahan untuk menyelesaikan masalah sosial dan lingkungan yang dirasa meresahkan mereka.

​Melirik data studi awal yang dilakukan program SFC kepada 262 siswa SMP dan SMA di Kabupaten Sumba Barat menunjukkan sebanyak 77 persen siswa mengaku mau membuat perubahan dan berkontribusi bagi berbagai permasalahan sosial melalui saling menginspirasi sesama anak muda. Sayangnya, temuan lain dalam studi yang sama menyatakan bahwa anak-anak masih malu, bahkan takut mendiskusikan ide yang dimilikinya untuk membuat perubahan dengan orang dewasa, termasuk guru dan orang tua mereka.

​Program SFC hadir untuk menjembatani celah ini. Sembari memberi ruang bagi anak-anak untuk membuat perubahan atas permasalahan sosial maupun lingkungan yang mengganggunya, program cetusan tim inovasi Save the Children Indonesia ini bermaksud mengasah soft skill anak-anak, serta menjembatani kesenjangan pembelajaran di Tanah Sumba yang belum banyak menyentuh ranah pengasahan kemampuan tepat guna yang dibutuhkan dunia kerja.

Baca juga: Save The Children Ajak Masyarakat Sumba Jangan Menyusahkan Anak

Untuk mendukung anak-anak menyelesaikan masalah yang diangkatnya, program SFC melakukan pendekatan melalui tiga kegiatan inti, yakni Solve-a-thon, sebuah kompetisi inovasi bagi anak usia 13-17 tahun se-daratan Sumba untuk menciptakan perubahan atas permasalahan yang menyita perhatiannya; Inkubasi, penguatan kapasitas dan pendampingan intensif selama tiga bulan bagi anak-anak untuk mengembangkan dan mengimplementasikan ide perubahan rancangannya serta AMBIS (Anak Muda Sumba Baomong Ide Inovasi) Talk, ruang aman dan nyaman bagi anak-anak muda Sumba yang tengah dan telah menciptakan aksi perubahan yang berdampak bagi lingkungannya.

Lewat tiga strategi ini, anak-anak–yang seringkali kekurangan ruang untuk berkontribusi bagi lingkungannya– diharapkan dapat memaksimalkan potensi dan mengembangkan ide-ide yang selama ini dimilikinya.
​Sepanjang tahun 2022, Solve-a-thon telah dilaksanakan dua kali dan berhasil menyiapkan 91 anak Sumba untuk menganalisa, memeruncing, hingga merancang dan menguji coba solusi bagi masalah yang dipilihnya melalui cara berpikir “design thinking.”

Dalam Solve-a-thon, anak-anak secara berkelompok diajarkan cara berpikir ini untuk menyelesaikan permasalahan, spesifik, melalui kacamata pihak yang mengalami masalah agar solusi yang diciptakan tepat guna. Solve-a-thon yang dilaksanakan secara tiga hari mengolaborasikan sesi belajar, diskusi, dan praktik secara bergantian dalam kemasan workshop yang interaktif bagi anak.

Baca juga: Save The Children Ajak Masyarakat Sumba Jangan Menyusahkan Anak

"Saya bersyukur sekali ikut Solve-a-thon ini. Keren juga ada kegiatan seperti ini, yang buat remaja begini. Karena, ya, biasanya orang-orang besar (dewasa) saja yang punya pandangan bisa selesaikan masalah, remaja belum bisa omong masalah begini, orang kan pikir begitu, tapi dengan ini kita buktikan kalau remaja bisa," kata Yayang (17), salah satu peserta Solve-a-thon.

​Harapannya, design thinking dapat secara berkelanjutan digunakan dalam ragam skenario penyelesaian masalah yang dihadapi anak sehingga mereka siap dan berani bertindak saat menemui permasalahan sosial apapun.
Rampung menciptakan ide perubahan, anak-anak yang telah mengikuti Solve-a-thon diberi kesempatan mewujudkan solusi rancangannya melalui kegiatan inkubasi.

Selama tiga bulan, anak-anak peserta inkubasi difasilitasi pengayaan materi yang berguna bagi implementasi proyeknya masing-masing; pendampingan intensif oleh komunitas anak muda Sumba; serta dukungan materi untuk mewujudkan solusi rancangan para anak.

Baca juga: Save The Children Indonesia Gelar Kegiatan Sumba Future Changemakers 

Sejak Agustus 2022, 47 anak dari empat kecamatan di Sumba Barat yang tergabung dalam 14 kelompok, mengikuti kegiatan inkubasi dalam semangat mewujudkan aksi nyata bagi lingkungannya.
​Dalam inkubasi, proyek perubahan yang dikerjakan anak menyentuh berbagai isu sosial maupun lingkungan di Sumba. Puluhan anak yang merasa terganggu dengan penumpukan sampah mulai menginisiasi pengadaan tempat sampah di titik-titik strategis, mulai dari pasar tradisional, hingga sekolah-sekolah.

Ada juga yang memilih menciptakan festival anti-plastik, mendaur ulang sampah plastik ke dalam bentuk berbagai kerajinan, melakukan aksi bersih masif, hingga membuat komunitas peduli lingkungan. Lain lagi dengan sejumlah anak yang mengangkat isu kekurangan air di berbagai desa di Sumba, mereka melanjutkan proyek sumur bor pemerintah yang sempat terbengkalai, menginisiasi pembuatan bak penampungan air hujan (PAH) maupun melakukan revitalisasi sumur penampungan air.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved