Berita Kota Kupang

Kopi Arabika Timor Raih Juara Pertama di Festival Kopi Terbaik Nusantara Jogya

Muhammad Fikri Shobari, seorang teknisi pesawat dari salah satu maskapai di Bandara El Tari Kupang. 

Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/HO-DOK.PRIBADI
KETUA KELOMPOK - Yusuf Zetmin Koinmanas selaku Ketua Kelompok Tani Taleko Monit menunjukkan Kopi Oelbiteno di rumah jemur di halaman rumahnya.  

Berbagai alat pendukung juga Fikri berikan untuk petani kopi di desa ini seperti alat pengukur tingkat keasaman fermentasi, alat pengukur kadar gula, juga alat pengukur kadar air untuk kopi yang sudah dijemur.

"Petani juga harus punya alat supaya mereka tahu standar mereka sampai mana," ungkapnya, Kamis 22 September 2022. 

Ia juga menyisihkan gajinya setiap bulan untuk membiayai pengembangan kopi yang ia bina. Tidak saja di Desa Leloboko, ia juga membina petani di Desa Oelbiteno.

Kopi dari masyarakat dua desa ini pun adalah yang ditanam di pekarangan rumah masing-masing, bukan dikembangkan di kebun kopi khusus, sehingga perlu ia kontrol dengan serius.

"Ini sebagai investasi jangka panjang juga dan kita menjalin hubungan. Saya dianggap sebagai keluarga atau anaknya mereka juga," ceritanya lagi.

Fikri juga memberi modal untuk pembuatan rumah jemur, mendampingi petani kopi di kedua desa ini dan melalui berbagai kendala di lapangan, hingga kini banyak pesanan dan permintaan yang datang.

"Tahun kedua ini bahkan lebih banyak pesanan," tambah dia.

Baca juga: Kakanwil Kemhum dan HAM NTT Awasi Indikasi Geofrafis Kopi Arabika Flores

Selama ini Fikri juga telah menghabiskan kurang lebih Rp 20 juta guna membantu para petani mengembangkan Kopi Timor ini.

Ia pun seringkali bertandang ke Kabupaten Kupang menempuh paling lama 3 jam perjalanan dari domisilinya di Kota Kupang. Dalam sebulan bisa tiga kali ia datang ke dua desa ini dan menginap di sana.

Antusias petani di Desa Leloboko juga makin tinggi  yang dari 10 petani hingga kini 20 petani terlibat. Pada Juni lalu hasil buah kopi di desa ini sekitar 1,2 ton yang bisa menghasilkan ratusan kilogram biji kopi atau meningkat dari produksi awalnya yang 50 kilogram saja.

Sementara di Desa Oelbiteno pada tahun pertama produksi bisa mencapai 100 lebih kilogram biji kopi dan masa produksi kedua sebanyak 50 kilogram karena terdapat beberapa kendala.

"Kritikan ada banyak, pro dan kontra dengan rasa kopi dari Oelbiteno dan Leloboko juga ada, tetapi yang terbanyak itu pujian atau orang suka dengan kopi dari NTT. Kita komunitas sendiri kaget ya, ada kopi di Timor yang rasanya sangat enak," ungkapnya.

Pemasaran dilakukannya melalui Instagram yang ia miliki yaitu Nemu Kebun Kopi dan ternyata banyak pula diminati masyarakat luar NTT akan arabika dari kedua desa ini.

Dulunya kopi ini diproduksi oleh masyarakat untuk konsumsi pribadi, barter dengan kebutuhan lain, atau dijual bubuk kopinya seharga Rp 5 ribu per gelas.

Baca juga: Galeri Kopi Sibakloang Maumere Aneka Rasa Flores Timur - Barat Binaan Bank NTT.

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved