Opini

NTT, Kelor dan Stunting

Hasil penelitian organisasi kesehatan dunia (WHO) merekomendasikan agar bayi dan anak-anak dalam masa pertumbuhan dianjurkan untuk mengkonsumsi kelor

Editor: Edi Hayong
istimewa
Isidorus Lilijawa 

Hasil penelitian organisasi kesehatan dunia (WHO) merekomendasikan agar bayi dan anak-anak dalam masa pertumbuhan dianjurkan untuk mengkonsumsi daun kelor, karena berkhasiat untuk menjaga dan meningkatkan kekebalan tubuh dan mencegah gizi buruk pada anak. Kelor mengandung 7 x vitamin C dari jeruk. Artinya, satu kali kita makan daun kelor sama dengan kita makan 7 buah jeruk, terdapat 4 x kalsium pada susu, 4 x vitamin A pada wortel, 2 x protein pada susu, 3 x potasium pada pisang dan 15 x kalium pada pisang dan berbagai jenis asam amino esensial, vitamin dan senyawa anti oksidan lainnya yang sangat bermanfaat untuk kesehatan.

Beberapa tahun lalu, dalam sidang paripurna istimewa DPRD Provinsi NTT di Kupang, Gubernur NTT menyampaikan pidato perdananya. Saat itu kelor disinggung. Saya mengutip Savanaparadise (8/12/2018), Marungga atau kelor akan dikembangkan menjadi sumber devisa baru bagi Nusa Tenggara Timur. Kalau di Eropa, di Jepang, dikenal dengan revolusi putih minum susu putih, NTT ingin memperkenalkan kepada dunia revolusi hijau lewat marungga.

Kelor menjadi pohon masa depan yang diandalkan untuk mengatasi kekurangan gizi dan “stunting” yang mencemaskan. Tumbuhan kelor di NTT termasuk yang terbaik di dunia sehingga bisa membuatnya menjadi “emas hijau” yang akan bernilai ekonomi tinggi. Untuk itu, Gubernur Viktor mengajak masyarakat NTT menanam kelor secara massal sebagai tanaman produksi.

Diberitakan Savanaparadise, Gubernur NTT juga menegaskan bahwa NTT harus punya minimal 1 juta pohon kelor yang dibudidayakan di wilayah NTT. Menurutnya, kelor di NTT merupakan Kelor endemik NTT yang memiliki jenis yang hampir sama dengan jenis pohon kelor di Spanyol, dengan cita rasa bau seperti daun pandan dan memiliki khasiat yang luar biasa untuk kesehatan, baik itu untuk merangsang kecerdasan otak, maupun mengobati berbagai macam penyakit lainnya termasuk untuk menghilangkan unsur narkotik dalam darah.

Kelor tak pernah ingkar janji. Ia setia dalam lokalitas NTT kita. Tidak saja di dapur-dapur rakyat, tetapi juga di lahan-lahan rakyat. Mimpi besar tentang kelor dengan jargon ‘revolusi hijau’ sudah dicanangkan di NTT. Mudah-mudahan mimpi besar ini bisa terwujud dalam road map yang jelas, tindakan terukur dan strategi yang simultan. Singkat kata, jika kelor tidak bisa mengobati covid, ia mesti bisa mencegah dan membasmi stunting. Jika dua-duanya tidak, minimal kelor bisa memperbaiki cara berpikir anak-anak NTT.(*)

Isidorus Lilijawa*)

Politisi Muda Gerindra

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved