Opini

NTT, Kelor dan Stunting

Hasil penelitian organisasi kesehatan dunia (WHO) merekomendasikan agar bayi dan anak-anak dalam masa pertumbuhan dianjurkan untuk mengkonsumsi kelor

Editor: Edi Hayong
istimewa
Isidorus Lilijawa 

NTT, Kelor dan Stunting

Oleh :  Isidorus Lilijawa*)

TANGGAL  30 September 2020 yang lalu, PT Moringa Organik Indonesia (MOI) yang mendukung program duet pemimpin NTT saat ini untuk menjadikan NTT sebagai Provinsi Kelor, buang handuk. Perusahaan asal Blora, Jawa Tengah itu mundur dari arena NTT setelah berjalan beberapa bulan melakukan kerja sama dengan sejumlah keloris di NTT. Alasannya, mereka tak pernah mendapat kiriman bubuk kelor dari NTT sesuai perjanjian kerja sama dengan para keloris NTT.

Bukan cuma karena alasan itu saja. Standar-standar produk kelor yang dipatok PT MOI tampaknya tidak bisa dipenuhi sejumlah keloris di NTT. Dudi Krisnadi, pemilik PT MOI memilih mundur karena perusahaannya sama sekali tidak memperoleh keuntungan, padahal biaya yang dikeluarkan tinggi. Terlalu banyak biaya, tapi tidak menghasilkan profit.

Kelor asal NTT tidak memenuhi syarat (TMS) oleh BPOM. Standar produksi kelor PT. MOI sama seperti BPOM Kupang, tapi harus memiliki sertifikasi organik. Namun itu belum bisa dilakukan karena masih TMS. Dalam pandangan Dudi, program kelor di NTT belum begitu tampak. Gubernur VBL dan Wagub JNS berkeinginan kuat, namun jajaran di bawahnya masih melihat program ini sebagai proyek.

Lalu apa kata pemilik PT MOI ini? “Iya, harus simultan. Ini kan NTT gak jelas road mapnya. Padahal Pak Gubernur dan Pak Wagub berkeinginan kuat menjadikan NTT Provinsi Kelor. Tapi yang lainnya malah pada rebutan dijadikan proyek, bukan kerja sosial. Yang ada dalam pikirannya uang dulu, bukan kerja dulu. Kasihan Pak Gubernur dan Pak Wagub,” katanya (VN, 30/9)

Kelor Politik

Untuk sementara waktu memang kita perlu menahan diri dari mimpi-mimpi besar para pemimpin yang hendak menjadikan kelor NTT go global dan masuk pasar industri. Wacana ini ketika ditambah bumbu politik memang menggiurkan. Namun, pengalaman Dudi Krisnadi di atas adalah gambaran bahwa kita belum siap untuk itu. Menjadikan kelor go global dan masuk pasar industri besar masih sebatas mimpi, sebatas janji.

Lalu yang realistis dengan kelor NTT itu apa? Biarkan kelor NTT tetap membumi dengan lokalitas NTT. Tidak perlu membuatnya melayang-layang dalam hembusan angin surga. Tanpa ada janji politik, tanpa ada kemasan politis, kelor sudah menjadi sahabat orang NTT sejak dahulu kala. Sejak dalam kandungan ibu, orang NTT sudah makan kelor. Kalau sekadar menjadikan kelor sahabat dapur yang setia, teman periuk dan tacu, tak perlu diajarkan itu kepada masyarakat. Otomatis mereka tahu. Karena itu biasa dan sudah terbiasa.

Yang perlu saat ini adalah memberi bobot pada kelor lokal kita. Bukan untuk masuk pasar industri. Kejauhan itu. Bukan juga hanya sekadar masuk dapur. Tetapi bagaimana kelor bisa menguasai pasar cerebral, dapur pikiran kita sebagai nutrisi otak. Ini yang penting. Makan dan minum kelor itu sudah biasa. Tetapi menjadikan kelor lokal kita bervariasi dalam penampakkannya entah dalam bentuk makanan, sabun, kosmetik, dll, itu penting. Juga menjadikan kelor sebagai nutrisi otak, stimulan pertumbuhan fisik, sangatlah penting.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved