Berita Lembata Hari Ini
Apakah Ada Kearifan Lokal di Lembata yang Bisa Menyelamatkan Teluk Hadakewa dari Kerusakan ?
potensi konflik antara nelayan tradisional dan nelayan atau pemilik kapal purse seine bisa semakin mengkhawatirkan.
Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Rosalina Woso
Bukan itu saja, setiap tahun, banjir atau aliran air hujan membawa tanah dari daratan yang sudah tercampur dengan pupuk kimia, pestisida, atau material polutan. Jika hutan bakau sudah tak ada, maka tanah yang tercampur zat-zat kimiawi itu juga turut mencamari laut.
Baca juga: Ternak Sapi Asal NTT Ditahan di Jatim, Disnak: Sudah Diselesaikan
Kondisi ini kemudian diperparah lagi dengan erupsi gunung Ile Lewotolok yang memuntahkan zat kimia ke lautan. Komposisi air laut pun berubah. Akibat dari konsentrasi kimia yang tinggi di laut dan tak ada tempat untuk bertelur, maka ikan akan keluar dari Teluk Hadakewa.
Justru, Piter mengklaim, tangkapan ikan yang didapat para nelayan saat ini berasal dari wilayah konservasi yang sudah menerapkan Muro di desa desa-sekitar.
Temuan lain diutarakan oleh Kepala Kantor Cabang Dinas Perikanan Provinsi NTT M. Un Budi Kabosu. Menurut dia, salah satu sebab hasil tangkapan nelayan tradisional berkurang ialah semakin banyaknya kapal bagan yang beroperasi di Teluk Hadakewa. Dia menyarankan supaya tidak ada lagi penambahan kapal bagan di Teluk Hadakewa.
Budi menyampaikan hal ini saat bertemu dengan para nelayan di Aula Kantor Desa Hadakewa, Kecamatan Lebatukan, Kamis, 17 Maret 2022.
Dari laporan kepala desa, diketahui kalau jumlah kapal bagan yang beroperasi di Teluk Hadakewa menyentuh angka 30 kapal. Jumlah ini sudah terlalu banyak menurutnya. Maka tidak heran hasil tangkapan nelayan pun berkurang.
Budi memaparkan di dalam wilayah Teluk Hadakewa, harus ada perhitungan daya dukung (daya pemulihan laut) dan daya tampung (kapal tangkap).
Dia mencontohkan, sebanyak 100 kilogram ikan yang direbut oleh 30 kapal bagan. Maka, satu kapal bagan hanya dapat sedikit ikan. Apalagi para nelayan tradisional.
Bukan hanya bagan. Rumpon pun jadi soal tersendiri.
Dia menemukan ada banyak rumpon di Teluk Hadakewa. Sementara, sesuai regulasi rumpon hanya bisa dipasang di luar wilayah 4 mil atau di luar zona konservasi Teluk Hadakewa. Untuk itu dia meminta para pemilik rumpon untuk segera memindahkan alat tangkapnya itu keluar dari Teluk Hadakewa.
Menghidupkan Kembali Muro
Saya kemudian bertemu lagi dengan Klemens dan kembali membahas persoalan hasil tangkapan nelayan di desanya. Kami berkesimpulan, Muro adalah model konservasi yang tepat untuk diterapkan di Teluk Hadakewa. Berbasiskan kearifan lokal yang dekat dengan masyarakat, warisan leluhur ini jadi solusi paling mutakhir bukan hanya untuk dampak eksploitasi laut yang berlebihan tapi juga soal perubahan iklim (climate change).
Kami berdua sadar ada banyak kearifan lokal yang ditinggalkan tapi justru itu merupakan solusi dari masalah-masalah lingkungan yang kita alami sekarang.(*)