Berita Sikka
Puluhan Tahun Jual Ikan di Pinggir Jalan, Merson: Kadang dikejar Satpol PP yang bertugas
pemasukan harian dari jualan ikan, dikatakan bervariasi, kadang Rp. 300.000 perhari pernah juga Rp. 1.000.000.
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Nofri Fuka
POS-KUPANG.COM, MAUMERE - Seorang Pria asal Sikka, khususnya kompleks Brai (Teteng) sedang menawarkan beberapa ikat ikannya kepada orang yang lewat di Kelurahan Nangameting, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Rabu 23 Maret 2022.
Pria itu mengenakan celana pendek, jaket merah dan sendal jepit. Sesekali ia berdiri dan kadang juga duduk di trotoar.
Saat ditemui TribunFlores.com ia mengatakan namanya adalah Merson.
Sudah puluhan tahun ia berjualan ikan.
Baca juga: Warga Wolodesa di Sikka Rindukan Kehadiran Jembatan di Sungai Lowokowi
"Saya sudah jual ikan puluhan tahun, awalnya itu saya ikut bapa yang jual ikan, setelah itu hingga kini saya sendiri jual ikan sementara orang tua mereka di rumah, biar saya yang kerja," ungkapnya.
Pria yang bernama Merson itu, putus sekolah atau tak tamat SD.
Ia mengatakan bahwa karena ekonomi keluarga dan tak tega melihat orang tuanya susah mencari uang, akhirnya ia memutuskan berhenti sekolah.
Hal itu ia lakukan saat ia baru menginjakkan kakinya di kelas 5 SD. Ia memutuskan berhenti dan lanjut menjual ikan hingga kini.
Baca juga: BMKG Siap Pasang Alat Deteksi Gempa dan Tsunami di Sikka
"Saya berhenti sekolah pas kelas 5 SD, setelah itu saya berjualan ikan hingga sekarang," katanya.
Menjadi seorang penjual ikan itu, menurut Merson, taklah mudah dijalani, apalagi bernotabene sebagai penjual ikan di pinggir jalan yang bisa dikatakan ilegal tak ada izinnya, kadang-kadang terpaksa berhenti menjual hanya untuk selamatkan diri dari pada ditahan Satpol PP.
"Susah kalau jualan di jalanan seperti ini, sebab kadang kita harus berhenti supaya jangan ditangkap, meskipun demikian susah juga untuk berhenti karena kami hidup dari ini," tuturnya.
Ia menjelaskan, menjual ikan adalah profesinya, sumber pemasukan untuk keluarganya jadi jika berhenti ekonomi keluarga pasti ambruk.
"Kami hidup dari ini, memang Satpol PP minta berhenti hanya, kami mau makan apa nantinya, kecuali mereka berikan gaji yah bolehlah, atau beri kami makan, karena usaha ini merupakan pekerjaan kami satu-satunya," ungkap Merson.
Baca juga: Tenaga Kerja Asal Sikka diduga diterlantarkan, Ini Pokok Permasalahannya.
Pria yang sudah beristri itu, mengharapkan bahwa kedepan perdagangan di Sikka ditata lebih baik, dan pemerintah bisa memahami kehidupan rakyat kecil.