Kisah Opa Salassa, Bupati Pertama Kabupaten TTU yang Kini Berusia 99 Tahun

Tahun 1948 hingga 1949, pria kelahiran Kei Maluku Tenggara ini lulus menjadi siswa Pamong Praja di Makassar.

Penulis: Eflin Rote | Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/EFLIN ROTE
Bupati Pertama Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) periode 1960-1965, Petrus Salassa ketika ditemui di rumahnya di Kota Kupang 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Eflin Rote

POS-KUPANG.COM – Kerutan demi kerutan terpahat jelas di wajah Petrus Salassa, Bupati pertama Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Opa Salassa, begitu ia sering dipanggil, akan genap berusia 99 tahun pada 26 April 2022 mendatang.

Meski usianya sudah tidak muda lagi, Opa Salassa masih mengingat dengan detail pengalaman masa muda mulai dari lulus sekolah Pamong Praja hingga menjadi Bupati pertama di Kabupaten TTU.

Sambil sesekali menutup mata, Opa Salassa menceritakan tahun demi tahun pengalamannya menjadi abdi negara. Tahun 1948 hingga 1949, pria kelahiran Kei Maluku Tenggara ini lulus menjadi siswa Pamong Praja di Makassar. Dan menjadi pegawai di Nusa Tenggara Timur pada awal tahun 1950.

Baca juga: PPUU DPD RI ke Nusa Tenggara Timur Serap Materi RUU Pemerintahan Digital

“Saya jadi pegawai di NTT tahun 1950, waktu itu baru tamat sekolah Pamong Praja. Saya melamar untuk masuk ke sekolah Pamong Praja dan diterima langsung ke kelas dua padahal harusnya tiga tahun. Saya masuk tahun 1948 dan tamat 1949,” kenang Opa Salassa ketika ditemui di rumahnya di Kupang, Kamis 3 Februari 2022.

Di tahun 1950, Opa Salassa diminta untuk mengabdi di NTT tepatnya di Pulau Adonara, Flores Timur. Di Adonara, Opa Salassa menjadi camat. Ia mengaku tidak tahu banyak soal NTT. Namun karena panggilan negara, Opa Salassa mengaku menerima saja apapun yang terjadi harus mengikuti perintah.

Pada waktu mengabdi sebagai camat, Opa Salassa berkisah mengalami peristiwa yang cukup membekas hingga saat ini. Kala itu, gerakan PKI sudah ada atau sudah terbentuk.  Namun karena masih baru, gerakan tersebut masih belum masiv pergerakannya. Hingga akhirnya karena khawatir kondisi keamanan terganggu, Opa Salassa meminta bantuan TNI untuk menjaga wilayahnya.

Baca juga: Pedagang Kelapa Muda El Tari Keluhkan Relokasi di Jalan Polisi Militer Sepi Pembeli

“Saya meminta bantuan TNI untuk amankan situasi karena Adonara itu kan pulau jadi waktu itu pemberontakan terjadi tapi rakyat dengan rakyat. Saya takut ada saling bunuh maka minta tantara datang dan amankan dengan baik sehingga semua bisa kembali berjalan dengan baik,” jelas Opa Salassa.

Opa Salassa dan menantunya Dr. Anthon Belle, M.Si
Opa Salassa dan menantunya Dr. Anthon Belle, M.Si (POS-KUPANG.COM/EFLIN ROTE)

Dalam tempo satu minggu, kondisi di Pulau Adonara mulai kondusif. Namun Opa Salassa masih harus menampung keluarga bekas pemberontak. “Mereka punya pimpinan ditangkap tapi anggotanya saya pindahkan ke Pulau Lomblen, di satu kecamatan yang masuk wilayah Adonara,” tambahnya.

Dua tahun mengabdi sebagai camat di Adonara, Opa Salassa ditugaskan untuk kembali bersekolah tepatnya di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Usai mengenyam pendidikan di Kota Pelajar, Opa Salassa kembali ditempatkan bertugas di Labuan Bajo sebagai Sekda selama hampir lima tahun.

Baca juga: Temu Akbar Milenial dan Perempuan Golkar NTT, AMPG Jadi Ujung Tombak

Setelah itu, saat Provinsi NTT mulai terbentuk pada tahun 1958, Opa Salassa kembali diminta untuk menjadi Bupati Kabupaten Timor Tengah Utara.

“Waktu itu saya dapat berita bahwa DPRD Timor Tengah Utara meminta kesediaan saya untuk menjadi Bupati di TTU. Waktu itu saya tidak tahu Pulau Timor belum pernah pergi juga. Waktu itu saya setuju tapi masih antara-antara,” katanya.

Sebagai Pamong Praja, Opa Salassa mengaku menerima semua tugas yang diberikan negara termasuk bersedia ditempatkan dimana saja. Dan waktu tiba untuk pertama kalinya di Kabupaten TTU, Opa Salassa mengaku tidak ada kerja lain selain harus mengenal daerah, mengenal masyarakat.

Baca juga: Mobil BUMDes Tidak Lengkap, Bupati Malaka Perintahkan Camat Cek di Lapangan

“Saya keluar kantor, naik kuda ke desa-desa. Waktu itu tidak ada mobil, jadi selama beberapa tahun disana saya selalu naik kuda,” ucapnya.

Kuda menjadi alat transportasi yang digunakan. Opa Salassa menuturkan jika ia pernah naik kuda dari Maubesi ke Wini kemudian dari Manumean ke Pantai Utara Ponu.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved