Opini Pos Kupang
Teologi Sosial John Prior Senandung 75 Tahun
Sebelum mengetahui sekilas tentang John, artikel ini saya tulis dalam rangka hari ulang tahun John Prior yang ke-75 pada 14 Oktober 2021
Ia tidak melihat gelar akademik sebagai sebuah status yang patut dibanggakan. Justru, gelar akademik tersebut mesti diabdikan bagi masyarakat.
Tidak hanya sampai di situ. Dalam kuliah Teologi Sosial, John mengajak para mahasiswanya untuk terlibat dalam kehidupan konkrit masyarakat.
Teologi Sosial dalam pandangan John, mesti mengantar mahasiswa untuk mengesampingkan keegoisan diri, serentak membangun relasi sosial yang adil antarmanusia. Mengenai hal ini, Alexander Dancar dalam artikelnya berjudul "Teologi Sosial dan Provokasi Melawan Penjinakan", menulis:
"Kuliah Teologi Sosial tidak diperlakukannya hanya sebagai media sosialisasi ajaran sosial Gereja (Katolik). Ia justru `memprovokasi' para mahasiswa untuk menggunakan ajaran sosial Gereja sebagai spirit untuk terlibat dalam kehidupan konkret manusia (para mahasiswa dibagi dalam kelompok berdasarkan `opsi keterlibatan' sesuai kategori kehidupan yang dijalani umat di sekitar STFK Ledalero dan kota Maumere); terlibat dalam mengkritisi (mendiskusikan) konsep-konsep teologis yang pernah tampil dalam sejarah Kristianisme, terutama gagasan-gagasan yang memuat penjinakan bagi umat Kristen khususnya dan umat manusia pada umumnya" (Menerobos Batas-Merobohkan Prasangka: Penerbit Ledalero, 2020, jilid II: hlm. 321).
Ini tentu menarik. John mencoba menarik simpul antara teori dan praksis.
Teologi sebagai sebuah refleksi iman mesti diimplementasikan dalam kehidupan. Teologi tidak ditangguhkan menjadi sebuah dogma yang abstrak, melainkan dihidupi dan diresapkan dalam konteks dan situasi masyarakat. Teologi yang sejatinya sepatutnya mendorong setiap orang untuk membuka ruang dialog yang membebaskan manusia.
Teologi Sosial John ini, seperti ditandaskan Alexander Dancar, memiliki dua makna sekaligus. Pertama, kognitif-deliberatif. Itu artinya, teologi sosial mesti membebaskan manusia dari keterbelengguan hidupnya.
Untuk mencapai itu, setiap orang tidak hanya tinggal dalam menara gading teologis, tetapi juga terlibat dalam situasi masyarakat dengan seluruh kemampuan diri dengan cara melihat, mendengar dan merasakannya.
Dengan lain perkataan, "meditasi dan kontemplasi teologis harus dibangun dibangun di atas pengalaman keterlibatan itu sendiri." Kedua, profetis-provokatif. Teologi sosial yang dianut John memberikan sebuah optio fundamentalis kepada mereka yang rentan dan menderita.
Ia selalu berada pada posisi orang kecil dan lemah untuk membantu mereka mengkritisi segala kebijakan pastoral yang acapkali menjinakkan bahkan membelenggu umat.
Tidak sampai di situ, John menggunakan analisis sosial untuk melihat sebuah persoalan yang terjadi, membuka tabir persoalan itu secara efektif agar semua orang dalam lingkup tertentu mengenal dan menyadari persoalan tersebut, menyuarakannya secara profetis dan bertindak provokatif, seperti memanggil massa untuk terlibat dalam praksis pembebasan manusia melalui aksi demonstrasi.
Harapan paling penting dari suara profetis ini adalah pihak yang bertanggung jawab merasa terdesak untuk mempertanggungjawabkan persoalan yang terjadi dalam masyarakat (Alexander Dancar, ibid., hlm. 322-323).
Di sini dapat dilihat bahwa John menyadari pentingnya option for the poor. Pilihan ini menjadikannya sebagai pribadi yang bebas dari kecenderungan untuk dijinakkan oleh teologi itu sendiri. Singkatnya, John menolak tunduk pada dogma teologis yang kaku, serentak menjadi subjek teologi yang bebas.
Hal ini dapat kita temui dalam artikel yang ditulis oleh Mgr. Edwaldus Martinus Sedu berjudul "Sejarah, Jejak Langkah dan Jembatan Kemanusiaan: Teladan `Tolak Tunduk' Pastor John Mansford Prior, SVD". Edwaldus menulis dengan sangat indah, sebagai berikut: "John adalah seorang misionaris dan ilmuwan yang berani dan mengagumkan, yang tidak saja hebat secara teoretis, yang tidak sekedar terpaku pada status gelar akademik yang mentereng dengan segala karyanya, melainkan lebih dari itu, menjadikan kontemplasi `tolak tunduk' untuk terus mencari makna kebenaran yang sesungguhnya dalam pengalaman hidup setiap hari" (Merambah Ke Segala Arah, op.cit., hlm. 6).
Pesan bagi Kita
Teologi Sosial yang dianut dan dikembangkan oleh John Prior ini hendaknya menggugat, merangsang hati nurani kita untuk terlibat dengan orang yang miskin dan menderita. Pilihan untuk terlibat ini merupakan panggilan kemendesakan akan pentingnya kemanusiaan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/logo-pos-kupang.jpg)