Minggu, 19 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Senin 27 September 2021: The Best & Award

Semua kita senang dipuji, ingin sukses, pengen menjadi terbaik. Hampir sepanjang waktu kita ingin berbicara dan dibicarakan yang baik tentang kita.

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RD. Fransiskus Aliandu 

Kadang-kadang mereka tertawa gugup di depan diri kita, karena aura misterius itu telah mendahului perkataan kita. Semua keluhan kita akan ditanggapi secara serius, sebab kebahagiaan kita telah menjadi fokus utama semua orang.

Bisa jadi dengan ketenaran, kita akan mendapatkan berbagai fasilitas dan kemudahan. Betapa tak berbelitnya tatkala mengurus perpanjangan KTP atau pun berbagai urusan lain.

Tapi pertanyaannya, apakah ketenaran dengan segala keindahan itu akan memberikan kepuasan hati yang tak akan terhapus?

Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 22 September 2021: Relasi

Seorang pastor tua yang sarat pengalaman berbagi cerita. Ia pernah menduduki berbagai jabatan dan kedudukan tinggi.

Ia dihormati dan dikagumi. Terkenal luas di mana-mana.

Diundang menjadi keynote speaker dalam banyak pertemuan ilmiah, seminar, dan sejenisnya.

Tapi beliau bertutur jujur, apa arti semua itu? "Saat saya kembali ke kamarku, saya hanyalah seorang diri. Saya mengurus diriku sendiri. Tak lagi ada sorak-sorai dan pujian".

"Di kala saya meninggal, mungkin ada banyak pidato yang mengisahkan tentang kehebatan diriku. Tapi sebenarnya semua narasi itu untuk siapa? Saya sudah terbujur kaku. Tak lagi mendengar dan tak bisa lagi dadaku membusung bangga," lanjutnya.

Penginjil Lukas menyampaikan kisah untuk permenungan. Konon timbul pertengkaran di antara para murid tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tak diterangkan apa konteks muncul pertengkaran itu.

Tapi hal ini yang ingin dikemukakan untuk kita. Bahwa Yesus mengetahui pikiran mereka. Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 20 September 2021: Terang Dunia

Lantas Ia berkata, "Barang siapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barang siapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar" (Luk 9:48).

Fokus kita diarahkan pada frasa, "menyambut Aku dan terkecil di antara kamu sekalian".

Rupanya Yesus tak menyinggung untuk menjadi "terbesar". Dia tahu bahwa itu adalah hasrat yang pasti ada dan menggema dalam pikiran dan menggelorakan langkah untuk menggapainya.

Namun Yesus menekankan tentang "menyambut Dia" sebagai sebuah pesan peringatan yang tidak boleh dilupakan. Dan saat "menyambut Dia", orang harus menjadi "yang terkecil". Apa artinya?

Rupanya Yesus tak membatasi dan melarang kita untuk menjadi terbesar, the best dan memperoleh award apa pun.

Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved