Minggu, 19 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Rabu 22 September 2021: Relasi

Saya tak mungkin tidak berelasi, kalau saya mau hidup dan berkembang. Justru dalam berelasi dengan orang lain, saya menjadi manusia. 

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RD. Fransiskus Aliandu 

Renungan Harian Katolik Rabu 22 September 2021: Relasi (Lukas 9:1-6)

Oleh: RD. Fransiskus Aliandu

POS-KUPANG.COM - Tak dapat dipungkiri bahwa kita lahir karena relasi, kita hidup dalam relasi, dan kita hidup untuk relasi

Karena Allah berelasi dengan saya, maka saya ada. Karena adanya relasi antara kedua orang tuaku, maka saya lahir. Eksistensi keberadaan diri saya tetap ada dan berlangsung justru berkat relasi saya dengan Tuhan, dengan orang lain, dengan siapa saja. 

Saya tak mungkin tidak berelasi, kalau saya mau hidup dan berkembang. Justru dalam berelasi dengan orang lain, saya menjadi manusia. 

Makanya, saya harus hidup dalam relasi di rumah, di tempat kerja, di perkumpulan atau organisasi. Juga di pasar, di tempat tamasya, dsb. Saya harus hidup dalam relasi. Saya harus hidup untuk berelasi. 

Saya mencoba merenungkan lebih jauh lagi pernyataan itu dalam bingkai kisah Yesus memanggil keduabelas murid-Nya dan mengutus mereka. 

Rupanya "memanggil" dan "mengutus' adalah cara Yesus berelasi dan berkomunikasi dengan para murid, dengan saya, serta dengan semua pengikut-Nya. 

Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 21 September 2021, Pesta St. Matius, Rasul: Inovasi

Dengan memanggil, Ia bisa menyapa dan menyebut nama. Ia bertanya tentang kesediaan dan menyemangati. Dengan mengutus, Dia memberi tugas dan menyuruh untuk menjangkau orang lain dan memenuhi kerinduan dan kebutuhan orang lain.

Dengan mengutus, Ia mengikutsertakan dan memberi kepercayaan. Tak lupa Ia pun memberi kuasa, memberikan mandat untuk bertindak dalam nama-Nya. 

Dengan begitu, bagi saya, menjadi orang terpanggil dan terutus adalah cara saya berelasi dengan Tuhan dan dengan orang lain. Dengan bepergian dan menjalankan tugas, saya mengambil bagian dalam relasi Tuhan dengan semua orang, terlebih dengan orang sakit dan orang berdosa.

"Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit ... Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa" (bdk. Mat 9:12-13). 

Namun saya pribadi sangat sadar bahwa tidak gampang menjadi orang terpanggil dan terutus. Tak mudah menjalankan tugas perutusan sebagai cara saya berelasi dengan orang lain. Kesulitan terbesar kadang ada dalam diri saya. 

Baca juga: Renungan Harian Katolik Sabtu 18 September 2021: Optimisme dengan Hati

Ada kalanya saya mengabaikan relasi dengan istri atau suami, pun dengan anak-anak. Saya juga jarang menyapa tetangga di sebelah rumah. Saya jarang terlibat dalam kegiatan kring, lingkungan, atau kelompok basis gerejani (KBG). Saya enggan ambil bagian dalam gotong royong di RT atau RW. 

Di lain kesempatan saya menolak atau menghindar bepergian menjangkau banyak tempat dengan rupa-rupa alasan. Saya justru begitu mudah mengiyakan permintaan orang yang dekat, tapi mempersulit mereka yang jauh apalagi yang tak disukai. Belum lagi ada rasa takut kehabisan bekal. Atau, tatkala saya merasa tak bakal mendapat apa pun. 

Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved