Renungan Harian Katolik
Renungan Harian Katolik Kamis 16 September 2021: Hanya untuk Orang Baik?
Pengalaman membuat kita bertanya, kenapa Tuhan koq lebih mencintai orang lain daripada diri kita. Padahal kita amat cenderung merasa diri lebih baik.
Renungan Harian Katolik Kamis 16 September 2021: Hanya untuk Orang Baik? (Lukas 7:36-50)
Oleh: RD. Fransiskus Aliandu
POS-KUPANG.COM - Pengalaman sering membuat kita bertanya-tanya, kenapa Tuhan koq lebih mencintai orang lain daripada diri kita. Padahal kita amat cenderung merasa diri lebih baik daripada orang lain.
Lebih lagi, sering kita begitu yakin bahwa mereka yang mendapat durian runtuh kebaikan Tuhan itu adalah orang-orang yang dikenal dengan nama dan reputasi kurang baik.
Kita sebetulnya tak perlu berkecil hati, apalagi sampai merasa begitu sakit hati. Soalnya, Tuhan khan bebas untuk mencintai siapa saja.
Memangnya Tuhan hanya mencintai kita sendiri? Bukankah Ia menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik; Dia menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (bdk. Mat 5:45).
Tuhan mencintai setiap orang dengan kasih sayang tak terbatas. Dia mencintai tiap-tiap orang, masing-masing kita dengan cara yang khas. Justru karena kenyataan inilah yang sering membuat kita sakit hati.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Rabu 15 September 2021, Pesta SP Maria Berdukacita: Ibu yang Memendam Duka
Persoalannya, kenapa kita sakit hati? Apakah Tuhan harus dipersalahkan dalam hal ini? Apakah hidup kita memang lebih baik, sehingga kita merasa diri lebih pantas dicintai?
Pikiran-pikiran ini muncul saat merenungkan kisah berikut.
Yesus diundang makan di rumah Simon, seorang Farisi. Selagi duduk makan dalam suasana gembira, ada seorang perempuan yang terkenal di seantero kota sebagai seorang berdosa. Pastilah ia seorang perempuan sundal, pelacur jalanan.
Ia tiba-tiba muncul dengan membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Mungkin itulah harta yang dipunyai yang membuatnya menarik untuk menggaet laki-laki.
Lalu, terjadilah sesuatu yang mengejutkan. Perempuan itu tak dapat menahan tangisnya. Ia tersedu-sedu di belakang dekat kaki Yesus.
Seakan ia mau menumpahkan seluruh kepahitan hidupnya di kaki Yesus. Air matanya yang mengalir deras dan membasahi kaki Yesus, diseka dengan rambutnya.
Ia pun mencium kaki Yesus dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Mungkin ia mengakui semua kesalahannya dan memohon belas kasihan dari Yesus.
Baca juga: Renungan Harian Katolik Senin 13 September 2021: Iman Orang Asing
Yang lebih mengagetkan adalah reaksi dari Simon, sang tuan rumah. Ia berkata dalam hatinya, "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa" (Luk 7:39).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/fransiskus-aliandu-rd.jpg)