Kamis, 16 April 2026

Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Jumat 20 Agustus 2021: Zat Perekat Istimewa

Renungan harian katolik Jumat 20 Agustus 2021 Pater Steph Tupeng Witin menulis renungan berjudul Perekat Istimewa.

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
Pater Steph Tupeng Witin SVD 

Renungan Harian Katolik Jumat 20 Agustus 2021: Zat Perekat Istimewa (Mat 22: 34-40)

Oleh: Pater Steph Tupeng Witin SVD

POS-KUPANG.COM - “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Mat 22:37-39)

Kita hidup pada zaman modern yang dilanda persaingan hidup sangat ketat. Setiap waktu digunakan untuk bekerja dan mengejar karier. Orang berlomba-lomba mencari celah apa saja untuk menggapai prestasi puncak, atau minimal mendekati titik puncak karier.

Terkadang perjuangan penuh ambisi itu menumbalkan rasa kemanusiaan yang bersumber dari hati.

Dalam konteks ini, akal lebih mendominasi hati. Dominasi akal mendorong orang mencari jalan, kadang dengan lihai untuk memenuhi target tujuan kepentingan sendiri dan orang dekat.

Fakta “menyusahkan” bahkan “mematikan” orang lain asal tujuan saya tercapai bukan menjadi sebuah kemewahan lagi.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Kamis 19 Agustus 2021: Iman dan Kasih

Ambisi meraih predikat “orang sukses” dalam bidang tertentu tapi mengabaikan getaran suara hati akhirnya menempatkan kita pada sudut jiwa yang lapar akan kasih yang murni.

Kebahagiaan yang sejati hanya sebuah utopia diadang gelombang besar ambisi pribadi dan hasrat mengejar kesuksesan demi predikat “orang sukses.”

Sebuah penelitian yang sudah lama dilakukan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa banyak karyawan yang kemudian diberhentikan dari pekerjaannya karena tidak mampu hidup dengan relasi yang baik dan harmonis dengan sesama rekan kerja.

Perusahaan-perusahaan mulai berbenah dengan menerapkan takaran “care” pada sesama manusia sebagai ukuran kepantasan dalam sebuah perusahaan.

Pemilik perusahaan hendak menjadikan perusahaannya sebagai sebuah “rumah bersama” yang manusiawi bagi semua orang yang bekerja. Setiap pekerja mesti merasa “at home” selama bekerja di dalam perusahaan.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Selasa 17 Agustus 2021: Mengabdi Negara, Melayani Allah

Akal budi memang sangat diperlukan untuk membaca dan menganalisa prospek kinerja perusahaan. Tapi relasi kemanusiaan akan menyempurnakan kekuatan akal budi sehingga perusahaan benar-benar menjadi sumber kebahagiaan bagi semua karyawan.

Fakta bahwa “Mereka tidak dapat berhubungan baik dengan para pekerja lain” dalam sebuah perusahaan menunjukkan bahwa ada upaya menghadirkan kasih yang bersumber pada hati sebagai tiang penopang utama dalam kerja bersama.

Orang mungkin saja profesional dan ahli dalam satu bidang tapi ketika bekerja bersama orang lain, dia membutuhkan sebuah mekanisme kasih yang merekatkan relasi dengan orang lain.

Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved