Moeldoko Hadapi 3 Tudingan Sekaligus Soal Keterlibatan Putrinya Dalam Bisnis Ivermectin, Benarkah?
Kepala Staf Presiden, Moeldoko, lagi-lagi jadi sorotan publik. Ini terjadi setelah ICW membongkar keterlibatan putrinya dalam bisnis obat ivermectin.
POS-KUPANG.COM, JAKARTA – Kepala Staf Presiden, Moeldoko, lagi-lagi jadi sorotan publik. Kali ini Moeldoko menghadapi tia tudingan sekaligus.
Tudingan itu dilontarkan ICW dengan membongkar dugaan keterlibatan putrinya dalam bisnis obat ivermectin.
Bahkan ICW juga menuding Joanina Novinda Rachma, putri bungsu Moeldoko itu bekerja sama dengan Sofia Koswara dalam impor beras.
Menurut data ICW, impor beras itu atas kerja sama dengan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), organisasi yang diketuai Moeldoko.
Informasi ini berkembang, setelah sebelumnya, ICW melalui sejumlah media, menuduh Joanina Novinda Rachma membantu PT Harsen dalam memperkenalkan ivermectin.
Baca juga: Saat Idul Adha, Moeldoko dan Jhoni Marbun Pakai Seragam Partai Demokrat, Anak Buah AHY Tertawa Geli
Ivermectin merupakan produk PT Harsen yang belakangan ini disebut sebagai obat yang dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh dalam memerangi covid-19.
Dugaan keterlibatan itu berangkat dari kedekatan hubungan bisnis antara putri bungsu Moeldoko itu dengan Sofia Koswara.
Sofia punya peran membantu PT Harsen dalam memperkenalkan Invermectin kepada publik.
Atas tuduhan tersebut, Kepala Staf Kepresidenan, Moeldoko angkat bicara. Ia menepis semua tudingan ICW yang dialamatkan padanya.
Baca juga: Gugat Menkumham di PTUN, Pengacara KSP Moeldoko Diduga Pernah Palsukan Surat Kuasa
Moeldoko mengatakan bahwa tudingan tersebut ngawur dan menyesatkan.
“Itu tuduhan ngawur dan menyesatkan,” kata Moeldoko melalui pesan tertulisnya, Kamis 22 Juli 2021.
Ia menegaskan tidak ada hubungan anak bungsunya itu dengan PT Harsen Lab.
"Tidak ada urusan dan kerja sama antara anak saya, Jo (Joanina Novinda Rachma) dengan PT Harsen Lab,” kata Moeldoko.
Baca juga: Demokrat Moeldoko Gugat Yasonna
Selain itu, terkait tuduhan kerjasama HKTI dalam impor beras, Moeldoko juga menyebutkan bahwa tuduhan semacam itu tidak bisa dimaafkan.
HKTI, ungkap Moeldoko justru berjuang untuk memandirikan petani agar mereka bisa mengekspor beras.