Breaking News:

Khasanah Islam

Contoh Sholat Sunnah Muakad dan Pengertiannya, Pahalanya Setingkat di Bawah Sholat Fardhu

Contoh Sholat Sunnah Muakad dan Pengertiannya, Pahalanya Setingkat di Bawah Sholat Fardhu

Editor: Adiana Ahmad
Tribun Manado
Sholat Dhuha, contoh sholat sunnah muakad 

Contoh Sholat Sunnah Muakad dan Pengertiannya, Pahalanya Setingkat di Bawah Sholat Fardhu

POS-KUPANG.COM- Selain sholat fardhu, Umat Islam dianjurkan untuk mendirikan sholat sunnah. Sholat sunnah dilaksanakan untuk menyempurnakan ibadah sholat fardhu

Namun tak banyak Umat Islam yang mendirikan sholat sunnah. 

Tidak seperti sholat fardhu yang hukumnya wajiba yakni dilaksaakan dapat pahala ditinggalkan dapat dosa, sholat sunnah hukumnya tidak wajib.

Artinya, jika dilaksanakan mendapat pahala, jika ditinggalkan tidak mendapat dosa. Mungkin karena alasan ini, tidak banyak Umat Islam rutin mendirikan sholat sunnah.

Baca juga: Apa Itu Sholat Sunnah Muakad dan Ghairu Muakad? Simak Penjelasan Ulama Hanafiyah, Berikut Contohnya

Dilansir dari buku Fikih Empat Madzhab yang ditulis Syaikh Abdurrahman Al Juzairi, Sholat sunnah menurut Ulama Malikiyah adalah apa yang diperintahkan oleh pembuat syariat, kemudian perintah tersebut memiliki keagungan nilai dan ditegaskan untuk ditempatkan kepada para jamaah atau pengikutnya.

Sholat sunnah sendiri terbagi dalam beberapa kelompok. Ada Sholat sunnah muakad dan sholat sunnah ghairu muakad. 

Berdasarkan tinjauan ilmu Ushul Fiqh, sunnah muakkad adalah amalan sunnah yang dilakukan untuk menyempurnakan suatu ibadah wajib dan dianjurkan dilakukan sebab tingkatannya hampir mendekati ibadah wajib.

Baca juga: Niat Sholat Sunnah Rawatib Sebelum dan Sesudah Zuhur, Keutamaan Shalat Sunnah Qabliyah dan Badiyah

Sunnah muakkad dianggap sebagai cara menyempurnakan suatu ibadah. Sebab, ketika seseorang melaksanakan ibadah fardhu, bisa saja ada bagian-bagian sunnah yang tidak ia kerjakan sehingga mengurangi pahalanya.

Sunnah muakkad juga dapat dipahami sebagai suatu amalan yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan karena tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW. Hanya sekali atau dua kali saja beliau meninggalkannya untuk menunjukkan kepada umatnya bahwa ibadah tersebut tidaklah wajib.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved