Opini Pos Kupang
Pancasila Masih Sebatas Wacana
"Pancasila dimuliakan dalam kata tetapi dikhianati dalam perbuatan", demikian pernyataan mantan Ketua PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif
Oleh: Frans X Skera, Warga Kota Kupang
POS-KUPANG.COM - "Pancasila dimuliakan dalam kata tetapi dikhianati dalam perbuatan", demikian pernyataan mantan Ketua PP Muhammadiyah Ahmad Syafii Maarif dalam rangka peringatan hari lahirnya Pancasila 01-06-2015 yang dipusatkan di Kota Blitar.
Dikatakan selanjutnya, Sila Kelima Pancasila tidak pernah dijadikan pedoman utama dalam politik pembangunan Nasional, kecuali dalam pernyataan verbal ( ref. Kompas, Senin 01-06-2015).
Kutipan di atas sengaja diangkat untuk mengingatkan kita bahwa Pancasila yang lahir 76 tahun lalu, dan resmi dijadikan Dasar Negara pada 18-8-1945, hingga saat ini nilai- nilainya belum dihayati dan diamalkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sehari hari.
Umur Ideologi Pancasila yang sudah tua, ternyata tidak berbanding lurus dengan kadar ketahanannya yang mestinya kokoh dan mapan. Hal ini tentu memrihatinkan dan berbahaya dalam kelanjutan hidup bangsa dan negara yang bhineka.
Baca juga: Ini salah satu Pertanyaan Tes KebangsaanPilih Agama Atau Pancasila,75 Staf KPK Tak Lulus,Ketua Lulus
Setiap kali kita merayakan HUT Pancasila, kenyataan di atas hendaknya mengingatkan dan menyadarkan semua warga bangsa tentang betapa pentingnya pemahaman dan penghayatan nilai-nilai Pancasila.
Sejak reformasi, Pancasila seakan dilupakan dan hanya dibutuhkan manakala ada masalah-masalah yang membahayakan kelanjutan hidup bangsa dan negara.
Pancasila diperlukan sekadar sebagai obat penyembuh sementara satu penyakit atau sebagai wasit yang menentukan benar tidaknya atau baik buruknya satu persoalan.
Bahkan ada yang menganggap Pancasila sekadar sebagai pemadam kebakaran. Setiap kali ada kobaran api, Pancasila disebut dan api sementara sepertinya padam, padahal api tetap hidup ibarat bara dalam sekam.
Baca juga: Distribusi Ikan di Hari Lahir Pancasila, NasDem Lembata Tuntaskan Kegiatan Bulan Mutu Karantina
Pancasila hanya dimanfaatkan sebagai penyelesaiaan sementara (temporary solution) bukan sebagai kebutuhan pokok (basic need) yang menetukan mati hidupnya (to be or not to be) bangsa.
Pancasila lebih sering terdengar dalam pidato-pidato, perintah, arahan, dan seruan pejabat negara dan para elit politik. Sah-sah saja, asal nampak dalam satunya kata dan perbuatan.
Bertebaran pula slogan-slogan dan kata kata indah yang hampir tak mempunyai makna signifikan dalam memperkokoh ketahanan Ideologi.
Sepertinya ada kecendrungan berbahaya yang berkembang dalam masyarakat yang bersumber dari sikap "acuh tak acuh atau apatis (indifferent) terhadap Pancasila.
Baca juga: Gedung Pancasila di Taman Pejambon: Bung Karno Pidato 1 Jam Cikal Bakal Lahirnya Pancasila (Selesai)
Pertama, Pancasila kan sudah diterima sebagai dasar negara, tak usah diutak atik lagi. Kalau timbul masalah pasti Pancasila akan menyelesaikannya. Kedua, dengan terus menyebut Pancasila dalam berbagai kesempatan, diharapkan kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara, akan baik-baik saja.
Pancasila dinilai memiliki kekuatan "magis" dan jimat yang bermujizat". Sikap acuh tak acuh ini sungguh berbahaya dan mengancam eksistensi Pancasila. Karena itu, yang dibutuhkan saat ini adalah konsistensi, satunya kata dan perbuatan dalam melestarikan nilai-nilai dan perbuatan Pancasila.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/logo-pos-kupang.jpg)