Opini Pos Kupang
Menggugah Spiritualitas Di 'Bulan Baik' Dalam Pandemi Covid-19
Bulan Mei Tahun 2021 sangatlah istimewa. Saat memasuki bulan Mei, puasa bulan Ramadhan tengah dijalankan oleh Umat Islam
Selain kelima larangan tersebut, umat Buddha ketika hari Waisak biasanya mengembangkan cinta-kasih dengan cara membantu fakir-miskin atau mereka yang membutuhkan, melepas hewan (biasanya burung) sebagai simbol cinta-kasih dan penghargaan terhadap lingkungan, serta merenungkan segala perbuatan yang telah dilakukan apakah baik atau buruk sehingga diharapkan di masa mendatangkan tidak mengulangi perbuatan yang buruk yang dapat merugikan.
Senandung Lagu Maria
Paus Paulus VI pada 30 April 1965 berkata, "Bulan Mei adalah bulan di mana devosi umat beriman didedikasikan kepada Bunda Maria yang terberkati.Bulan Mei adalah kesempatan untuk penghormatan iman dan kasih yang diberikan oleh umat Katolik di setiap bagian dunia kepada Sang Ratu Surga.
Sepanjang bulan ini, umat Kristen, baik di gereja maupun secara pribadi di rumah, mempersembahkan penghormatan dan doa dengan penuh kasih kepada Bunda Maria dari hati mereka.
Pada bulan ini, rahmat Tuhan turun atas kita dalam kelimpahan". Hal itu tertuang dalam surat ensiklik Mense Maio, the Month of Mary.
Pada Bulan Mei, biasanya umat Katolik berdoa dari rumah ke rumah, mendaraskan rosario. Lagu Maria akan berkumandang indah. Karena bulan Mei tahun 2021 masih dalam pandemi Covid-19, maka tidak semua paroki mengijinkan doa Rosario dari rumah ke rumah.
Semoga lagu-lagu Maria yang indah menenangkan hati kita,menghasilkan sikap serta perbuatan yang baik, seindah senandung lagu. Semoga doa-doa yang dimohonkan bersama bunda Maria dapat dikabulkan oleh Allah Bapa di surga.
Spiritualitas di Masa Pandemi
Jika hati kita ikhlas, dapat dikatakan bahwa pandemi ini membawa musibah dan berkah untuk kita semua. Dengan adanya pandemik ini, kita berubah, kembali ke jati diri kita. Kita tinggal di rumah, dekat dengan keluarga, dan menggunakan teknologi baru untuk bergaul dengan siapa saja dan dengan seseorang dimana saja.
Situasi pandemik ini membawa dampak kesehatan, yang akhirnya meluas menjadi dampak ekonomi dan akhirnya menjadi dampak kenegaraan. Virus penyebab pandemik ini belum jelas penyebabnya, dan belum ada obatnya, entah sampai kapan akan teratasi karena antivirusnya belum ditemukan.
Kunci untuk kita dapat bertahan terhadap virus ini terletak pada diri sendiri, bukan pada orang lain, apalagi pada pemerintah.
Musibah yang ditimbulkan oleh pandemik ini adalah musibah kesehatan, yang akhirnya akan menyeret kepada musibah ekonomi, dan akhirnya musibah ketatanegaraan. Karena manusia terlena maka akan timbul musibah.
Adapun berkah karena adanya musibah ini adalah manusia dapat kembali kepada jati dirinya, menjadi manusia yang sempurna. Tidak ada yang dapat menyelesaikan masalah ini kecuali diri sendiri.
Ketahanan kita dalam pandemi ini dilakukan dengan memperkuat imun tubuh, secara 1. Sosial budaya, dengan cipta, rasa, dan karsa: menjadi orang yang seneng, sehat dan sugih, plus silaturahim dan sodakoh 2. Ekonomi, dengan cara bekerja dan berkomunikasi dengan orang lain, dan 3. Ketatanegaraan, dengan mengikuti aturan berbangsa dan bernegara.
Kunci hidup sehat adalah dengan mengenal diri sediri, untuk apa saya hidup.Dari pikiran kita yang jernih, kita mengeluarkan "bio-energi power".
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ketika-jokowi-menjenguk-korban-bencana.jpg)